Bertani, Lahan Minim Tidak Jadi Masalah

Jakarta Pusat, -- Pemerintah Kota Jakarta Pusat canangkan Hari Tani Kota atau lebih akrab disebut Urban Faming Hal tersebut dilakukan pada saat launching cabenasi di Kebon Kota Hinau Mandiri Komplek Angkasa Pura RT 14/06 Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (23/4).

Di harapkan pertanian justru dapat dilakukan di mana saja walau dengan lahan yang terbatas. Setiap orang dapat menjadi petani sambilan sebagai hiburan atau justru profesi utama walau tinggal di kota besar seperti di DKI Jakarta sekalipun.

Walikota Jakarta Pusat, Mangara Pardede mengatakan, berkaitan dengan perayaan Hari Bumi Dunia yang jatuh pada Jumat (22/4) kemarin. Pihaknya ingin berkontribusi secara langsung dalam pelestarian lingkungan. Walaupun diakuinya, bila wilayah Jakarta Pusat memiliki luasan wilayah yang kecil, dengan keterbatasan lahan kosong dibandingkan wilayah Jakarta lainnya.

"Lewat pertanian kota atau urban farming, metodenya juga tidak harus di lahan kosong, tetapi bisa menggunakan vertikultur, polybag atau teknik menanam minimalis lainnya," terangnya.

Tidak hanya menghijaukan lingkungan, kegiatan tani kota juga dapat menjadi salah satu bentuk ketahanan pangan dari masyarakat. Sebab, seluruh tanaman yang dibudidayakan merupakan tanaman pangan yang tinggi kebutuhannya.

"Karena itu kita pilih cabe sebagai unggulan program ini, karena bukan cuma konsumsinya tinggi, cabe juga mahal kalau dijual. Apalagi perawatan, mulai dari sebar benih, tanam sampai panen itu gampang. Asalkan disiram setiap hari dan matahari yang cukup, tiga bulan bisa panen," ungkapnya.

Kasudin Pertanian Kelautan dan Ketahanan Pangan Jakarta Pusat, M Mulyadi menambahkan, guna mendukung program tersebut pihaknya telah menyediakan sebanyak 30.000 media tanam, plastik polybag dan bibit. Seluruhnya akan diberikan kepada sebanyak 100 kelompok tani kota di sebanyak 44 Kelurahan dan delapan Kecamatan di wilayah Jakarta Pusat.

Sehingga, lanjutnya, apabila seluruh bibit dapat tumbuh dan sukses dikembangkan, jumlah cabe yang dapat dipanen bersamaan pada tiga bulan mendatang dapat mencapai 24 ton lebih. Jumlah tersebut dikalkulasikan apabila jumlah produksi sebesar 0,8 kilogram per pohon.

"Waktu panen diperkirakan tiga bulan dari sekarang, atau sekitar bulan Juli, pas Lebaran (Idul Fitri-red). Jadi ibu-ibu nggak usah khawatir lagi pas lebaran, pas harga cabe naik, ibu-ibu bisa langsung petik dari pohonnya. Untung kan?," jelasnya sembari tertawa.

Usai mencanangkan Hari Tani Kota, pada kesempatan yang sama, Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede bersama istri, Rintje Pardede turut melakukan penanaman pohon buah di lahan kosong bekas lapak burung merpati yang sebelumnya ditertibkan. Sebanyak 12 bibit pohon diantaranya, pohon Sawo Kecik, Jambu Jamaika atau lebih dikenal Jambu Monyet, Jambu Air, dan Nangka (Christ Kominfomas JP)


Tulis Komentar Anda



Berita Terkait