Sosok Guru di Mata Bayu Meghantara

Jakarta Pusat, -- Tak ada satupun orang sukses yang tidak memiliki guru. Setiap orang tentulah memiliki guru. Begitupun dengan Bayu Menghantara, Wali Kota Jakarta Pusat ini memperkenalkan gurunya di hadapan khalayak saat upacara peringatan hari guru, Rabu (28/11) di halaman Kantor Wali Kota (Jakpus).

Dialah Sumargianto, guru Matematika di SMPN 27, Jakarta Timur itu diajaknya berdiri diatas podium bersama. Rangkulan dan jabatan tangan Bayu, disambut Sumargianto dengan bahagia, wajahnya nampak sumringah saat Bayu memangil dan merangkulnya menuju podium.

“Inilah guru SMP saya, guru yang berjasa mendidik saya, Pak Sumargianto. Hari ini saya ajak guru saya untuk berdiri bersama saya,” ujarnya dihadapan para peserta apel.

Baginya, sosok guru merupakan sosok sentral dalam mewujudkan kecerdasan bangsa. Termasuk sosok berjasa bagi dirinya, sehingga menjadikan dirinya sukses seperti sekarang.

“Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi seluruh dedikasi para guru dan tenaga pendidikan yang telah mengajarkan dan mencerdaskan seluruh anak bangsa,”  ungkap Bayu.

Kedepan, ia menginginkan dedikasi dan komitmen para guru ditingkatkan kembali agar semakin banyak generasi bangsa yang sukses, dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

Tak hanya sosok Sumargianto yang membekas di ingatan Bayu.  Sosok Bayu sebagai murid cerdas dan menonjol pun masih dikenang guru Matimatika yang saat itu baru menginjak 18 tahun. Bagi guru yang saat ini berdinas sebagai Kepala Seksi Pendidikan Sudin Pendidikan Wilayah 1 Jakpus, Bayu sosok yang amat istimewa. Gambaran pemuda yang ulet dan tangguh dan sukses telah tergambar sejak Bayu duduk di SMP.

“Dia anak yang amat menonjol, saya akui itu. Saya gurunya, saya tahu kompetensinya bagus. Bahkan dia terpilih sebagai perwakilan sekolah yang dikirim Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke tinggkat provinsi,” ungkapnya.

Tak hanya cerdas, Bayu dinilainya tumbuh dengan kesederhanaan dan keprihatinan yang pada akhinya mengantarkan hidupnya menjadi sosok sukses sekarang ini. Dia sempat bercerita, baru mengetahui kisah prihatin pimpinannya saat ini setelah bertemu Bayu di ruang kerjanya.

“Pernah beberapa waktu lalu saat kami sedang bercerita, dia menceritakan pada saya. Jika dulu saat menjadi murid saya, dia pernah berhari-hari tidak jajan di sekolah saat teman-temannya yang lain jajan. Ini karena memang saat itu kondisinya terbatas, tapi itu tidak menghalangi mimpinya,” kenangnya.

Sebagai seorang guru, tentunya menjadi kebanggaan yang amat luar biasa ketika melihat anak yang selama ini diajarkan dan dibimbingnya dapat mencapai keberhasilan. Bahkan melampaui dirinya saat ini.

“Saya sangat bangga. Bangga sekali,” tutupnya bersemangat.

 

Kominfotik JP/NEL 


Tulis Komentar Anda



Berita Terkait