Profil Walikota Jakarta Pusat

Posted on 02/01/2013 by Admin_JP

saefullahSetelah kenyang makan asam garam berkarir dari bawah di Pemprov DKI, kini Saefullah yang sebelumnya menjadi Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) DKI Jakarta dipercaya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menjadi Walikota Jakarta Pusat. Meski tidak pernah memegang jabatan sebagai pamong, bukan berarti kemampuan kepemimpinan Saefullah sebagai walikota dengan penduduk 1,2 juta jiwa itu diragukan. Terlebih, Jakarta Pusat membutuhkan pemimpin yang gesit, visioner, dan mampu menjadi city manager yang baik bagi kotanya. Segudang pekerjaan berat juga menanti tangan dingin pria kelahiran Rorotan, Jakarta Utara, 11 Februari 1964 ini.

Lalu, program dan strategi apakah yang akan dilakukan Saefullah untuk menata dan membangun Kota Administrasi Jakarta Pusat ke depan. Berikut wawancaranya denganberitajakarta.com.

Apa yang akan Anda lakukan setelah dilantik menjadi Walikota Jakarta Pusat?
Tentunya saya akan menjalankan tugas pokok dan fungsi sebagaimana mestinya. Bagi saya, jabatan itu adalah amanah maka saya harus menjalankan dan menjaga amanah ini sebaik mungkin.

Apakah sudah terbayangkan bahwa Anda akan menjadi walikota?
Tentu saja tidak. Dari awal saya tidak pernah menduga kalau ternyata saya akan dipercaya oleh gubernur untuk menjadi walikota. Sebagai seorang abdi negara, saya bekerja seperti biasa, dan menjalankan tugas-tugas rutin. Tidak pernah terbersit sedikit pun di hati saya untuk menjadi walikota.

Apa langkah awal yang akan dilakukan dalam menata lingkungan?
Pertama, saya akan menata kawasan Monas. Karena ini merupakan salah satu tugas yang harus dikerjakan.

Strateginya seperti apa?
Karena kawasan Monas ini adalah tanggung jawab kita semua maka saya akan melibatkan seluruh SKPD/UKPD terkait. Namun, sebelumnya saya telah melakukan observasi lapangan, beberapa waktu lalu. Tujuannya adalah untuk mengetahui hal-hal apa saja yang harus dibenahi atau diperbaiki. Observasi ini tidak melibatkan siapa-siapa, saya bergerak sendiri secara sembunyi-sembunyi, hanya ajudan saya saja yang mendampingi. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi ril yang terjadi di Monas. Saya ingin melihat langsung dengan mata kepala sendiri, tanpa harus menunggu laporan dari anak buah di lapangan. Tentunya hasilnya akan aktual dan faktual.

Apa yang didapat dari observasi itu?
Sedikitnya ada 3.000 anak panah ukuran besar dan 600 ukuran kecil yang ada di pagar Taman Monas raib dicuri orang yang tidak bertanggungjawab. Diduga, kejadian itu sudah berlangsung lama. Selain itu juga ditemukan sejumlah lubang menganga berdiameter kurang lebih 60 sentimeter. Lubang ini merupakan lubang resapan biopori (LRB) yang penutupnya sudah tidak ada lagi karena dicuri orang juga.

Dari hasil observasi ini ternyata memang banyak hal yang harus dibenahi untuk penataan dan pengamanan Monas. Unit yang paling berperan terhadap Monas ini adalah Satpol PP, terkait dengan pengamanannya. Kemudian Sudin Pertamanan untuk menjaga dan merawat seluruh taman dan pagar yang ada di dalam maupun luar kawasan Monas.

Setelah saya amati beberapa hari, ternyata pada jam-jam tertentu, terutama pada malam dan pagi hari, banyak orang yang masuk ke Monas dengan cara menerobos pagar. Hal seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ke depan jika masih ada yang nekat menerobos pagar maka akan kita serahkan pada pihak yang berwajib. Sebab, Saya tidak ingin apa yang telah dirawat dan diperbaiki itu terus menerus dirusak warga. Padahal biaya perawatan ini sangat besar dan bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

Kemudian, agar keamanan lebih terjamin maka ke depan jumlah personil Satpol PP yang menjaga Monas akan diperbanyak. Yakni dari semula 40 personil akan ditambah 60 personil sehingga genap 100 personil. Mereka akan bekerja dalam tiga shif setiap harinya.

Targetnya kapan penataan kawasan Monas akan rampung?
Mudah-mudahan akhir Desember tahun ini akan rampung semuanya. Seluruh tombak di ujung pagar yang hilang akan diganti dengan yang baru, demikian halnya seluruh cat yang sudah kusam akan dicat kembali.

Setelah Monas, program berikutnya apa?
Saya akan menata RW kumuh. Sejauh ini, Saya belum mengetahui secara pasti berapa jumlah RW kumuh yang ada. Namun, dalam program ini Saya juga akan melibatkan seluruh UKPD terkait. Sebab penataan RW kumuh ini sama juga dengan program bedah kampung. Seluruh lingkungan kumuh, ditata dengan rapi, mulai dari saluran air, kondisi jalan, kebersihan lingkungan dan sebagainya. Program ini harus dikerjakan secara serius dan butuh waktu yang agak lama. Karena penataan suatu wilayah, perlu pemikiran dan koordinasi lintas sektor.

http://www.beritajakarta.com/2008/id/Wawancara_Detail.asp?ID=3