Sistem Satu Pintu, Kunci RW 07 Petojo Selatan Kendalikan Covid-19

Sistem satu pintu di RW 07 Petojo Selatan. Foto: Shab

Jakarta Pusat, -- RW 07 Kelurahan Petojo Selatan berkomitmen untuk menjaga wilayahnya dari penularan Covid-19 dengan mengusung konsep Kampung Tangguh yang diluncurkan pada bulan Desember 2020 lalu.

Lurah Petojo Selatan, Rahmat Hidayat mengemukakan konsep kampung tangguh ini awalnya merupakan konsep yang dinisiasi oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran dalam menangani penyebaran Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.

"Kampung Tangguh RW 07 ini jadi RW percontohan di wilayah Kecamatan Gambir, dengan menerapkan One Gate System (sistem satu gerbang/pintu) untuk akses keluar masuk warga," tutur Rahmat saat dihubungi, Jumat (8/1).

Selain itu menurut Rahmat, sistem Satu Pintu ini membuat aktivitas warga lebih terpantau karena semua harus melintasi satu titik yang diawasi oleh relawan Satgas Covid-19 RW 07. Setiap warga yang melintas untuk masuk ke wilayah RW 07 diwajibkan menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Menurutnya, tanpa melakukan protokol kesehatan tersebut, baik warga ataupun pendatang dipastikan tidak dapat memasuki area RW 07.

Senada dengan Rahmat, Ketua RW 07 Petojo Selatan, Edy Kusnadi mengaku sistem satu pintu ini memang secara ketat dilakukan di wilayahnya demi kebaikan bersama.

"Sebelumnya memang cukup banyak warga kita yang terpapar (Covid-19), tapi setelah dilakukan sistem ini alhamdulilah penurunannya signifikan," ungkap Edy saat dikonfirmasi.

Kemudian dirinya juga menuturkan bahwa dirinya harus mendisplinkan warganya sendiri dengan cara yang sedikit tegas.

"Kalau ga pake masker (teguran) pertama kita kasih masker, kemudian yang kedua kita suruh pulang buat ambil masker di rumah," ujarnya.

Setiap bulan selama pandemi, kata Edy,  pihaknya juga mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) dan evaluasi mengenai perkembangan Covid-19 di wilayah RW 07. Selain itu, apabila ada warga yang terkonfirmasi positif pihaknya mewajibkan swab bagi seluruh anggota keluarga dari warga yang positif tersebut, tujuannya agar tidak membahayakan warga lainnya.

"Di sini termasuk wilayah padat penduduk, jadi kita pikirkan juga dampaknya," tambah Edy.

Penerapan kampung tangguh di RW 07 juga mendapatkan respon positif dari warga. Sistem satu pintu dengan penjagaan 24 jam yang terbagi menjadi 2 shift, membuat wilayah RW 07 menjadi lebih sehat dan terhindar dari gangguan keamanan.

Selain itu, peletakan tempat cuci tangan di setiap RT, kemudian penyemprotan disinfektan yang dilakukan sebulan dua kali oleh pihak Gulkarmat dan PMI, sisanya dilakukan secara swadaya oleh warga. (As)

 

Kominfotik JP/FP


Tulis Komentar Anda



Berita Terkait