Loading
Lurah Kampung Bali maju dalam penghargaan Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan tahun 2026. Kategori ini mengapresiasi tokoh yang merintis, mengabdi, menyelamatkan, dan membina upaya pelestarian lingkungan secara mandiri, sukarela, dan tanpa pamrih.
Tak mudah dalam menata wilayah menjadi lingkungan yang mempunyai suatu inovasi dalam peningkatan ketahanan pangan dan pengolahan sampah organik.
‘Setiap masalah yang ada, pasti ada solusianya’, begitulah ungkapan Musa, Lurah Kampung Bali yang mengawali kisah peduli lingkungannya sejak tahun 2014 semasa bertugas di BPBD.
Musa mengisahkan, untuk maju dalam penghargaan Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan tahun 2026, dirinya didorong Sudin LH Jakarta Pusat mengembangkan beberapa inovasi.
“Memang untuk Kalpataru ini persyaratannya sangat ketat, minimal untuk kegiatannya sudah berlangsung 5 tahun kebelakang, dan Alhamdulillah saya sudah berkecimpung dalam pengolahan sampah sejak 2014 silam,” ujarnya, Rabu (20/5).
Dilanjutkan Musa, untuk penilaian sudah memasuki tahap kedua yakni verifikasi lapangan, sebelumnya sudah dilakukan verifikasi online terkait dengan beberapa inovasi yang diciptakannya.
“Untuk sekarang ini saya mengusung inovasi Hyminaphogot yang berfungsi untuk ketahanan pangan dan pengolahan sampah organik. Ketahanan pangannya dari hydroponik dam pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot,” jelasnya.
“Sekarang ini posisinya sudah tiga besar, nanti terbaik pertama akan menerima penghargaan Kalpataru pada 11 Juni mendatang. InsyaAllah saya optimis dapat menjadi yang terbaik,” ucapnya.
Tidak lupa, Musa berpesan untuk warga Kampung Bali agar dapat mengelola sampah langsung dari sumbernya dengan menggunakan ide-ide kreatif. Seperti di Kelurahan Kampung Bali membuat alat press botol minuman plastik dari kayu bekas serta siganopoly yang merupakan permainan edukatif berasal dari limbah kardus dan kertas.
“Jadi mulai dari diri sendiri untuk mencintai lingkungan. Beberapa inovasi yang saya gaungkan, selain bernilai sosial, juga bernilai materi. Jadi bisa mengurangi sampah, dan juga menghasilkan cuan,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Kota (Sekko) Administrasi Jakarta Pusat Denny Ramdany mengaku bangga kepada Lurah Kampung Bali Musa yang ikut serta di ajang bergengsi level nasional.
"Kami mendukung penuh inovasi luar biasa seputar pengelolaan lingkungan yang digagas oleh Lurah Kampung Bali," ujarnya.
Berawal dari kepeduliannya terhadap masalah penanganan sampah, Musa sukses menginisiasi gerakan pilah pohon, pengelolaan sampah, hingga pengembangan sektor usaha berbasis lingkungan.
Menariknya, aksi nyata yang berdampak besar lahir dari seorang aparatur sipil yang tidak memiliki latar belakang pendidikan lingkungan, melainkan Sarjana Administrasi Publik.
"Artinya, jika kita semua mau peduli terhadap lingkungan, sebenarnya tidak mengenal latar belakang, tidak mengenal jarak, siapa pun bisa," tambahnya.
Denny mengungkapkan, Pemkot Jakarta Pusat berkomitmen untuk menyebarluaskan informasi positif dan inovasi dari Kampung Bali ke kelurahan dan kecamatan lain di Jakarta Pusat agar dapat memicu "kecemburuan positif" antar wilayah untuk berlomba melahirkan inovasi baru.
"Melalui momentum ini, kami berharap lahir inovasi baru di Jakarta Pusat yang mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan hidup," tuturnya.
Pada kesempatan ini, Tim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melakukan verifikasi lapangan yang langsung diterima Sekko Administrasi Jakarta Pusat, di RPTRA Hati Suci.