Peringati HPSN, Anies Ajak Warga Atasi Sampah Secara Bersama

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hadiri peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tingkat Provinsi, di RW 03 (Gang Hijau) Jalan Cempaka Putih Timur Raya, Jakarta Pusat, Jumat (21/2). Foto: Zak

Jakarta Pusat, -- Hari Peduli Sampah Nasional pertama kali ditetapkan pada tanggal 21 Februari 2005 tepat setelah terjadinya tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.

Sampah menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat global. Masing-masing kota di dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang dan telah melakukan berbagai cara seperti, Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 107 Tahun 2019 tentang Pengurangan dan Pemilahan Sampah di Lingkungan Pemprov DKI Jakarta.  Pada hari ini, 21 Februari 2020, juga dilaksanakan Jumat Bersih serentak di 267 Kelurahan. Dan menginisiasi gerakan Sampah Tanggung Jawab Bersama (Samtama).

Untuk itu, dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tingkat Provinsi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali mengajak warga untuk mengolah sampah secara bersama.

Anies mengatakan, jumlah sampah yang dihasilkan warga Ibu Kota DKI Jakarta dalam setiap hari mencapai 7.600 ton. Tingginya volume sampah yang dihasilkan menjadi tugas bersama antara pemerintah dengan warga.

"Mari kita bersama-sama lakukan pengelolaan sampah. Jika bisa lakukan pengelolaan sampah secara bersama berarti kita peduli dengan bumi dan kesehatan lingkungan kita," ucap Anies didampingi Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara, saat Peringatan HPSN Tingkat Provinsi, di RW 03 (Gang Hijau) Jalan Cempaka Putih Timur Raya, Jakarta Pusat, Jumat (21/2).

Anies juga memberikan contoh sampah dengan mengambil satu buah pisang, bersama warga dirinya berinteraksi mengenai sampah. Jika pisang belum dimakan pastinya sangat berharga, namun lain halnya jika isi pisang telah dimakan yang akan tersisa pasti hanya kulit.

Contoh lainnya yang dikemukakan Anies, permen yang terbungkus plastik jika belum dimakan pasti berharga. Namun, sama halnya dengan pisang, bungkus permen setelah isi di dalam bungkus telah dimakan pasti langsung dibuang.

"Kedua bungkus itu (kulit pisang dan plastik permen) pasti kotor yang dinamakan sampah. Kulit pisang jika diolah bisa menjadi pupuk, begitu juga dengan bungkus permen bisa diolah dalam bentuk  kerajinan tangan," paparnya.

Masih kata Anies, pengelolaan sampah bersama antara pemerintah dan warga harus dilakukan. Dalam hal ini, pengelolaan sampah yang disebut Sampah Tanggung Jawab Bersama (Samtama) ini sebagai bentuk pengelolaan sampah rumah tangga.

"Jadi jika sampah dari rumah tangga sudah dipilah, diolah diharapkan dapat mengurangi jumlah volume sampah di DKI Jakarta," terang Anies.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menambahkan, dengan cara-cara seperti ini Pemprov DKI Jakarta bisa mengurangi sampah sebanyak 30 persen dari jumlah sampah yang dihasilkan sebanyak 7.600 ton tiap hari.

"Hal lainnya yang dilakukan dalam mengatasi sampah khusus plastik juga diatur dalam Pergub 142 tahun 2019 tentang penggunaan sampah plastik," tandasnya.

Peringatan HPSN mengangkat tema ‘Kurangi, Pilah, dan Olah’ (Kupilah) ini juga dihadiri Sekretaris Kota Jakarta Pusat, Iqbal Akbarudin, Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat M Fahmi, dan Camat Cempaka Putih Andri Ferdian.  (As)

Kominfotik JP/Chr


Tulis Komentar Anda



Berita Terkait