Loading
Di tengah riuhnya lalu lintas dan deretan gedung tinggi ibu kota, ada sebuah panggung yang tetap setia menjaga cerita-cerita yang tak lekang oleh waktu. Di kawasan Senen, Jakarta Pusat, sebuah gedung masih tegak berdiri sebagai saksi bisu bahwa tradisi masih memiliki tempat di jantung kota metropolitan.
Di balik gedung itu, lampu panggung perlahan menyala. Tabuhan gamelan menggema hingga ke jalan raya. Para penari dengan riasan wajah karakter dan kostum megah bersiap membawakan kisah klasik dari Mahabharata dan Ramayana. Ini adalah sebuah kisah tentang penjaga tradisi dari Gedung Wayang Orang Bharata, yang tetap hidup di zaman yang terus berubah.
Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata, Teguh Ampiranto yang akrab disapa Kentus menceritakan bagaimana kesenian ini lahir dari masa yang sangat berbeda dengan sekarang. Kala itu, Wayang Orang Bharata resmi berdiri pada 1972. Namun jauh sebelum itu, Jakarta pernah menjadi rumah bagi banyak kelompok wayang orang.
“Dulu di Jakarta itu paguyuban wayang orang banyak sekali.
Tapi karena perkembangan zaman dan banyak tontonan yang tidak harus keluar
rumah seperti TV, satu per satu gulung tikar. Akhirnya mereka bersatu dan
mendirikan Wayang Orang Bharata pada tahun 1972,” ujar Teguh.
Pada masa kejayaannya, pertunjukan wayang orang bahkan
digelar setiap hari di berbagai kota besar di Jawa. Namun perubahan pola
hiburan masyarakat mulai menggeser panggung tradisi.
“Dulu pergelaran wayang orang itu jaya-jayanya. Di Jakarta,
Surabaya, Semarang, Solo. Tapi karena perkembangan zaman, muncul banyak pilihan
tontonan seperti televisi dan hiburan lain. Akhirnya banyak paguyuban yang
tutup,” katanya.
Kini, dari ratusan kelompok yang pernah ada di Pulau Jawa,
hanya segelintir yang masih bertahan. “Saat ini tinggal tiga paguyuban besar yang masih bertahan:
Bharata di Jakarta, Ngesti Pandowo di Semarang, dan Sriwedari di Solo,” jelasnya.
Bagi para pelakunya, wayang orang bukan sekadar pertunjukan
seni. Ia adalah medium untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan.
“Wayang orang itu tontonan yang adiluhung. Bukan hanya
tontonan, tapi juga tuntunan,” kata Teguh.
Setiap cerita yang dipentaskan pun selalu membawa pesan moral. Cerita wayang mengajarkan tata krama, tentang kebaikan dan kejahatan. “Intinya sederhan, kalau kamu dicubit terasa sakit, jangan mencubit orang lain,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan oleh salah satu seniman sekaligus
pemeran utama Wayang Orang Bharata, Yudi Barata. Menurutnya, para pemain tidak
hanya bekerja sebagai seniman, tetapi juga sebagai penjaga warisan budaya.
“Kami mayoritas bukan sekadar pekerja seni, tapi pelestari
seni. Kalau pekerja seni, mindset-nya uang. Tapi kalau pelestari seni, yang
berjalan itu hati. Kepuasan batin yang kami cari,” ujarnya.
Di dalam setiap lakon, kata Yudi, selalu ada pelajaran
tentang sebab dan akibat. Pesan moral itu pasti ada. Kalau berbuat salah,
akibatnya seperti ini. Kalau berbuat baik, hasilnya seperti ini. Itu tuntunan
yang ingin disampaikan kepada generasi muda.
Dari Pentas Setiap Hari hingga Hadapi Tantangan Zaman
“Dulu kita pentas setiap hari. Bahkan pernah sehari tiga
kali pertunjukan. Antrian penonton sampai ke tengah jalan, orang-orang antusias
menunggu episode berikutnya,” kenangnya.
Namun zaman berubah. Bioskop, televisi, hingga hiburan
digital membuat panggung tradisi mulai ditinggalkan. Budaya dari luar juga
masuk tanpa filter, akhirnya kesenian seperti ini terasa terpinggirkan.
Pandemi COVID-19 bahkan sempat membuat panggung ini hampir benar-benar sepi. “Waktu pandemi kita benar-benar terjun bebas. Tidak boleh ada penonton, akhirnya kita tampil lewat YouTube supaya tetap bisa menyapa penonton,” ujarnya.
Menjaga Pakem, Berani Berinovasi
Meski tetap memegang pakem tradisi Jawa, para seniman Wayang Orang Bharata menyadari pentingnya beradaptasi dengan zaman, salah satu perubahan yang dilakukan adalah durasi pertunjukan. Dulu pergelaran wayang orang bisa sampai lima jam. Sekarang disesuaikan dengan zaman, sekitar satu setengah sampai dua jam.
Dilanjutkan Teguh, dialog panjang juga mulai dikurangi dan diganti dengan gerakan tari yang lebih dinamis agar penonton tidak jenuh. Inovasi juga dilakukan lewat teknologi panggung dan cara penyampaian cerita. Kini ada narator, running text, atau selipan bahasa Indonesia di adegan punokawan supaya penonton non-Jawa bisa memahami ceritanya.
Inovasi menjadi kunci agar kesenian tradisional tidak dianggap kuno. “Teknologi itu melesat. Kita juga harus ikut berlari. Tapi pakem tetap kita pegang,” tegasnya.
Di tengah tantangan zaman, harapan baru muncul dari generasi
muda. Sekitar 80 persen pemain Wayang Orang Bharata saat ini berasal dari
generasi muda yang lahir dan besar di Jakarta. Namun, proses regenerasi itu
bukan tanpa tantangan.
“Bayangkan, anak-anak yang sehari-hari ngomong ‘gue-lo’, tiba-tiba harus bermain dengan bahasa Jawa Kromo Inggil, bahkan Kawi dan Sanskerta. Itu tantangan besar,” katanya.
Meski begitu, semangat regenerasi terus dilakukan. Bahkan ada program khusus untuk anak-anak. Ada Wayang Orang Anak supaya generasi muda ikut main. Kalau anak-anak ikut, otomatis orang tua dan keluarganya datang menonton.
TikTok Membawa Penonton Baru Gen Z
Menariknya, sebagian penonton baru Wayang Orang Bharata justru datang dari media sosial. Dua penonton muda, Vira dari Depok dan Ziva dari Jakarta, mengaku mengetahui pertunjukan ini dari TikTok.
“Pertama dari TikTok. Terus aku share ke dia, ‘ayo nonton, kayaknya seru,’” kata Vira.
Ziva yang sebelumnya sudah pernah menonton mengaku pengalaman tersebut sangat berkesan.
“Experience mahal sih. Jarang banget bisa nonton pertunjukan seperti ini. Kemarin dapat tiket di row bawah, kelihatan banget ekspresi dan karakternya. Mereka menjiwai banget,” katanya.
Bagi mereka, melihat tradisi tetap hidup di tengah kota Jakarta adalah sesuatu yang membanggakan.
“Keren sih. Dari kecil kita sering dengar cerita-cerita legenda Jawa, tapi baru sekarang bisa benar-benar mendalami ceritanya,” ujarnya.
Mereka berharap generasi muda semakin mengenal cerita-cerita klasik tersebut, agar Gen Z juga tahu cerita aslinya seperti apa, dan tidak lupa budaya Indonesia.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Panglima TNI 2022-2023, Laksamana TNI (Purn) Yudo Margono, yang malam itu datang menonton pertunjukan. Ia adalah penggemar wayang sejak lama, baik wayang kulit maupun wayang orang dan sudah sering menonton pertunjukkan di Wayang Orang Bharata.
Menurutnya, generasi muda harus mulai mengenal kembali budaya ini agar tidak punah. Ia bahkan pernah melihat bagaimana kesenian gamelan dan wayang dipelajari oleh masyarakat asing.
“Di Amerika, Malaysia, mereka sudah belajar gamelan dan wayang dari kita. Jangan sampai generasi penerus kita nanti malah harus menonton wayang di luar negeri," ucap Yudo.
Panggung yang Terus Menyala
Wayang Orang Bharata bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah
simbol ketahanan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Bagi
para senimannya, panggung ini bukan hanya tempat bekerja, melainkan ruang hidup
untuk menjaga warisan leluhur.
Di Jepang, kesenian tradisi seperti Kabuki terus ada dan
tetap berjalan. Menonton Kabuki menjadi pengalaman yang seolah wajib bagi
wisatawan. Untuk itu, Wayang Orang Bharata diharapkan menjadi daya tarik bagi turis
yang berkunjung ke Indonesia atau Jakarta bisa menonton wayang orang.
Gedung Wayang Orang Bharata membuktikan satu hal, budaya tidak selalu kalah oleh zaman. Selama masih ada orang yang percaya pada nilainya, panggungnya akan selalu menemukan cara untuk tetap menyala.