Loading
Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin mendorong kelurahan, suku dinas terkait, dan warga masyarakat untuk terus meningkatkan pengelolaan sampah dari sumbernya.
Data Sudin Lingkungan Hidup bahwa pilah sampah di Jakarta Pusat sudah 33 persen atau 42.083 rumah dari 126.514 rumah tangga yang sudah melakukan pemilahan sampah.
"Angka itu harus terus kita genjot dan tingkatkan karena memang sebagaimana kita ketahui per 1 Agustus pengangkutan sampah ke Bantargebang itu sudah mulai dibatasi," katanya, saat rapat koordinasi (rakor) pemilahan sampah, di Ruang Pola, kantor walikota setempat, Jalan Tanah Abang I, Gambir, Senin (3/8).
"Saya juga mendorong agar setiap RW sudah melakukan pemilahan sampah, bisa dilakukan dengan mengaktifkan bank-bank sampah untuk mengolah sampah anorganik serta organik," imbuhnya.
Menurutnya, ada banyak contoh pengelolaan sampah seperti, komposter, lubang biopori, dan sebagainya. Semua bisa dilakukan asalkan mempunyai niat tidak mesti harus terfokus pada anggaran saja.
"Dari sisi anggaran memang tidak seluruhnya terpenuhi tapi kita jangan selalu mengeluh terkait anggaran karena gubernur mendorong pola kreatif dengan mengajak semua pelaku kepentingan seperti korporasi untuk ikut bersama sama menggali potensi yang ada di tiap wilayah," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Slamet Riyadi menambahkan, Jakarta Pusat masuk dalam tertinggi kedua se-DKI Jakarta dalam dalam hal input memilah setelah Pulau Seribu.
"Kita Jakarta Pusat termasuk yang terbaik dari lima wilayah satu Kabupaten se DKI Jakarta dengan rumah memilah sebanyak 42.083 rumah dari 126.514 rumah atau persentase 33,26 persen," ungkapnya.
Ia juga berharap rakor ini dapat menyamakan persepsi, memperkuat sinergi, dan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
"Fokus utamanya mencakup pemilahan jenis sampah, penguatan peran pengurus wilayah, serta pengurangan volume sampah ke tempat pembuangan akhir," pungkasnya.