Antisipasi Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemprov DKI Jakarta Operasikan Water Mist

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi sejak Jumat (4/9) malam. Erupsi tersebut mengeluarkan abu vulkanik yang menyebar terbawa angin ke sejumlah wilayah, salah satunya DKI Jakarta.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat menindaklanjuti arahan Gubernur DKI Jakarta untuk mengantisipasi potensi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Salah satunya dengan menyemprotkan water mist di sejumlah koridor utama dan wilayah Jakarta. Langkah preventif dan mitigasi ini diambil untuk memastikan kualitas udara dan kesehatan warga ibu kota tetap terjaga dengan baik.

Penyemprotan dilakukan mulai dari kawasan Silang Monas, Thamrin-Sudirman, hingga ruas jalan protokol di lima wilayah kota administrasi, seperti Jalan Yos Sudarso, Cempaka Mas, Rasuna Said, M.T. Haryono, hingga S. Parman.

​Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto menegaskan bahwa jajaran Pemprov DKI akan terus memantau perkembangan aktivitas gunung berapi tersebut secara intensif. 

"Pemprov DKI mengimbau seluruh warga agar tetap tenang dan tidak panik, sebab jajaran pemerintah daerah disiagakan penuh untuk menghadapi potensi dampak yang muncul " katanya. 

Dilanjutkan Uus, guna mengendalikan partikulat debu dan abu di udara, Pemprov DKI Jakarta mengoperasikan water mist secara serentak di berbagai titik strategis. 

"Sebanyak 30 hingga 40 kendaraan armada gabungan dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota diterjunkan untuk menyemprotkan water mist di sejumlah koridor utama dan wilayah Jakarta," jelasnya. 

Tak hanya menyiagakan armada daerah, Pemprov DKI juga meminta para pengelola gedung bertingkat di Jakarta yang memiliki peralatan water mist untuk turut serta mengoperasikannya secara mandiri. Langkah gotong royong ini diharapkan dapat membantu menekan potensi polusi debu di area aktivitas publik secara maksimal. 

​Selain pengondisian lingkungan, sektor pendidikan juga mengambil langkah antisipatif. 

"Sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta, kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah DKI Jakarta disesuaikan melalui skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk melindungi para siswa dari paparan debu di luar ruangan," ujarnya. 

​Ia menegaskan bahwa pengambilan keputusan dan koordinasi ini didasarkan pada data faktual hasil rapat koordinasi Pemprov DKI bersama pihak BMKG. 

"Untuk menghindari simpang siur dan potensi disinformasi di masyarakat, seluruh arus informasi resmi disampaikan secara terpusat melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta," ucapnya. 

​Masyarakat diimbau untuk selalu memantau perkembangan situasi dari kanal resmi pemerintah dan tidak mudah memercayai kabar yang belum terverifikasi. 

"Jika terdapat sebaran abu vulkanik di lingkungannya, warga disarankan mengenakan masker, membatasi aktivitas di luar rumah, serta menutup pintu dan jendela," imbaunya. 

Perlu diketahui, perhatian khusus juga diharapkan diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. 

"Saya sampaikan bahwa Pemprov DKI menyiagakan layanan gawat darurat 24 jam melalui kanal Jakarta Siaga 112 serta fasilitas kesehatan terdekat untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan medis segera," tandasnya.

Reporter: Angga Rizkyanda & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP