Dari Sampah Menjadi Harapan

Di tengah padatnya gedung dan pemukiman di perkotaan, sebuah gang di wilayah Cempaka Putih Timur justru menghadirkan suasana berbeda. Gang tersebut dipenuhi pepohonan dan tanaman mulai dari obat, anggur, markisa, hingga lukisan dinding hasil kreativitas warga. Di balik suasana asri itu, tersimpan sebuah gerakan panjang tentang kesadaran lingkungan yang tumbuh dari warganya sendiri.

Gang RW 03 Cempaka Putih Timur kini dikenal sebagai Kampung Samtama, singkatan dari “Sampah Tanggung Jawab Bersama”, sebuah kampung Proklim Lestari Tingkat Nasional yang berhasil mengubah pengelolaan sampah menjadi budaya hidup sehari-hari.

Gerakan ini bukan muncul dalam semalam. Ketua RW 03 Meri Widayanti menjelaskan, bahwa upaya membangun lingkungan hijau sebenarnya sudah dimulai sejak 2006. Saat itu, warga mulai menata lingkungan dan membangun kebiasaan hidup bersih secara perlahan.

“Untuk penataan lingkungan, kita sudah mulai dari tahun 2006. Untuk Kampung Samtama sendiri, kami diberi gelar oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Pak Anies Baswedan, di tahun 2020,” ujarnya.


Nama Samtama bukan sekadar identitas kampung, melainkan prinsip bersama bahwa persoalan sampah bukan hanya tugas pemerintah atau pengurus wilayah.

“Sampah ini bukan tanggung jawab Pak Camat, Pak Wali, lurah, atau RW saja, tapi tanggung jawab kita bersama sebagai warga,” kata Meri.

Kesadaran memilah sampah bahkan sudah dilakukan warga sejak 2009, jauh sebelum hadirnya Pergub Nomor 77 Tahun 2020 tentang pengelolaan sampah lingkup rukun warga. Awalnya, warga diajak memilah sampah organik dan anorganik dari rumah masing-masing. Sampah anorganik menjadi pintu masuk perubahan karena memiliki nilai ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.

“Karena warga kalau kita bilang ada nilai ekonominya, mereka jadi antusias,” jelasnya.

Hasil dari bank sampah kemudian tidak digunakan untuk kepentingan pribadi pengurus, melainkan kembali untuk kebutuhan lingkungan dan warga. Prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat” menjadi pondasi yang membuat gerakan ini bertahan hingga sekarang.

Perubahan itu tentu tidak mudah. Mengubah pola pikir warga membutuhkan proses panjang dan kesabaran..“Kita harus penuh kesabaran, penuh semangat untuk merubah mindset warga. Tidak semudah membalikkan telapak tangan,” tambah Meri.

Kini, hasilnya mulai terlihat nyata. Dari 18 RT di RW 03, terdapat 20 bank sampah aktif yang dikelola warga. Setiap pagi, hampir seluruh rumah sudah terbiasa memilah sampah menggunakan kantong berbeda warna. Kantong hijau digunakan untuk sampah organik, kuning untuk sampah anorganik yang bisa didaur ulang, sementara merah untuk sampah residu dan B3.


Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin menyebut RW 03 sebagai contoh nyata pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang berjalan konsisten selama bertahun-tahun.

“Ini bukan baru satu, dua, tiga tahun. Sudah sangat lama dikelola dengan penuh kesadaran warganya,” ujarnya saat mengunjungi Kampung Samtama.

Menurut Arifin, hal paling penting dari Kampung Samtama adalah tumbuhnya kesadaran warga tanpa rekayasa. Bahkan, sebagian hasil penjualan sampah digunakan untuk pengelolaan kampung, perawatan tanaman, kegiatan warga, hingga rekreasi bersama.

“Pernah juara lomba, hadiahnya dipakai buat rekreasi satu kampung,” katanya.

Semangat gotong royong juga terlihat dari tangan-tangan kreatif warga. Spanduk bekas diubah menjadi media lukisan dan hiasan lingkungan. Dinding gang dipenuhi mural bertema alam dan ajakan menjaga bumi. Semua dibuat secara sukarela oleh warga, salah satunya tokoh penggerak lingkungan setempat, Pak Aan.

“Beliau sukarela membuat tulisan imbauan, nama-nama pohon, sampai lukisan-lukisan alam supaya kampung tambah indah,” ujar Arifin.

Kesadaran warga juga terus berkembang. Jika dahulu sampah organik bisa mencapai 700 hingga 800 kilogram per bulan, kini jumlahnya menurun drastis. Namun penurunan itu justru menjadi indikator keberhasilan.

Warga mulai membawa wadah sendiri saat berbelanja ke pasar untuk mengurangi plastik sekali pakai. Hasil sisa sayuran belanja dari pasar dikumpulkan dan diolah menjadi kompos yang bisa bermanfaat menjadi pupuk organik. Kebiasaan menggunakan botol dan kemasan sekali pakai pun perlahan berkurang.

“Sekarang warga sudah mengurangi penggunaan kemasan-kemasan. Jadi sampah yang masuk ke bank sampah juga berkurang,” kata Arifin.


Bagi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat, Kampung Samtama menjadi gambaran masa depan pengelolaan lingkungan perkotaan. Di tengah ancaman krisis sampah Jakarta, RW 03 menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari gang kecil dan kesadaran sederhana di rumah tangga.

Arifin berharap pola seperti ini dapat ditiru wilayah lain. “Kalau merasa ragu bagaimana cara mengelolanya, datang saja ke sini dan tanya. Ini tidak ada rekayasa sama sekali. Memang sudah terjadi dari dulu karena kesadaran warga,” tuturnya.

Kampung Samtama membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan membuang limbah, melainkan tentang membangun kebersamaan, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan. Dari gang kecil di Cempaka Putih Timur, sebuah pesan sederhana terus tumbuh: menjaga bumi bisa dimulai dari rumah sendiri.

Reporter: Shabrina Saraswati & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP