Miss Tjitjih dan Panggung Seni yang Tetap Abadi

Hampir seabad berlalu sejak nama Nyi Tjitjih pertama kali naik ke panggung. Zaman silih berganti, penonton pun berubah. Namun di sebuah sudut kota Jakarta, suara gamelan dan lakon masih terus dimainkan. Sebab bagi para penerusnya, Nyi Tjitjih boleh telah tiada, tetapi napas seninya belum selesai.

Jauh sebelum ada media sosial, promosi digital, atau panggung dengan tata suara modern, perjalanan Miss Tjitjih bermula dari perjalanan sebuah kelompok teater keliling pada tahun 1920-an. Sebuah kelompok teater keliling bernama Opera Valencia ini berangkat dari tradisi teater bangsawan dan melakukan pertunjukan keliling di Jawa Barat yang didirikan oleh Abubakar Bafagih.

Hingga suatu hari, perjalanan mereka membawa ke Sumedang. Di kota itu, mereka bertemu dengan seorang gadis berbakat berusia 18 tahun bernama Nyi Tjitjih yang kemudian ikut bergabung. Pertemuan itu pun menjadi titik balik. Nama Opera Valencia kemudian berubah menjadi Miss Tjitjih Tonil Gezelschap. Bersamanya, masuk pula warna Sunda ke dalam pertunjukan yang sebelumnya menggunakan bahasa Melayu. 

“Yang dulunya berbahasa melayu, kini teater ini kental dengan unsur berbahasa sundanya” ujar Sudariana selaku Ketua Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih.

Pada 1928, rombongan Miss Tjitjih pergi ke Jakarta dan mulai menetap. Nyi Tjitjih kemudian menjadi primadona panggung. Namanya semakin dikenal dan ia mendapat berbagai undangan untuk tampil.

“Ia sering diundang oleh Gubernur Hindia Belanda saat itu,” kata Sudariana.

Sejak saat itu, Miss Tjitjih telah menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Jakarta.

Namun, pada 1939, saat pertunjukan cerita Gagak Solo, Nyi Tjitjih meninggal dunia di atas panggung. Sejak saat itu, sosok Nyi Tjitjih tidak lagi hadir secara fisik di atas panggung. Tetapi namanya justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompok tersebut.

“Sejak saat itulah sosok Nyi Tjitjih ini menjadi inspirasi buat kita semua,” ujar Sudariana.

Hampir satu abad kemudian, namanya masih disebut di panggung Jakarta dan diabadikan menjadi nama Gedung Kesenian Miss Tjitjih yang berada di Jalan Kabel Pendek, RT 09/RW 02, Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Kota Jakarta Pusat.

Ketika Gedung Menjadi Abu

Menjaga sebuah kesenian hampir satu abad bukan perkara mudah. Miss Tjitjih pernah merasakan masa ketika pertunjukan berlangsung setiap malam. Pada era 1980-an, Yayasan Nyi Tjitjih dibentuk, kemudian pada 1986 dibangun gedung kesenian sekaligus asrama oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bagi para seniman, asrama bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah kehidupan mereka berlangsung. Namun perjalanan itu kembali mendapat ujian ketika gedung kesenian Miss Tjitjih terbakar.

“Nasib lagi kurang bagus lagi, gedung kesenian Tjitjih kebakaran,” ucap Sudariana.

Mereka kemudian harus mencari tempat lain untuk tetap mempertahankan pertunjukan.

“Semenjak itulah kita manggung di Teluk Gong, sewa bioskop lah di daerah Teluk Gong,” ujarnya

Panggung berpindah, tetapi pertunjukan tidak berhenti. Hingga akhirnya, pada 2004, gedung Miss Tjitjih kembali dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Alhamdulillah pada tahun 2004 pembangunan gedung Nyi Tjitjih kembali dibangun oleh Pemprov DKI, malah diresmikan oleh Ibu Presiden, Ibu Megawati saat itu,” ucapnya. 

Bagi Sudariana, kembalinya gedung tersebut menjadi semacam titik balik.

“Sejak itulah mungkin kami semakin semangat untuk menunjukkan jati diri seni melalui pertunjukan” ungkapnya.


Miss TjiTjih Bukan Hanya Cerita Horor

Jika nama Miss Tjitjih disebut hari ini, sebagian masyarakat mungkin langsung mengingat satu hal: horor. Sudariana tidak menampik bahwa citra tersebut memang telah lama melekat. Namun, ada alasan mengapa ketika nama Miss Tjitjih disebut, sebagian orang langsung teringat cerita horor.

“Mungkin dulu pernah temen-temen mengenal cerita beranak dalam kubur, di era tahun 70an itu begitu hits di Miss Tjitjih dan pernah kita bawakan walaupun dengan konsep kita sendiri, mungkin berawal dari situ,” kenang Sudariana.

Namun bagi Sudariana, menyebut Miss Tjitjih sebagai teater horor saja sama seperti melihat sebuah buku hanya dari satu halaman. Sebab cerita yang dimainkan jauh lebih beragam.

“Kita ada empat jenis cerita, Pertama ada cerita babad yang membawa penonton ke dunia kerajaan. Lalu ada pewayangan, percintaan, persilatan, dan kehidupan manusia sehari-hari. Ada pula cerita yang bernuansa Timur Tengah dan Islam. Dalam perayaan ulang tahun ke-98, misalnya, Miss Tjitjih mengangkat cuplikan kisah Siti Masyitoh pada masa Firaun,” jelasnya. 

Cerita tersebut tidak diarahkan untuk membahas agama secara langsung, melainkan tentang perjuangan seseorang mempertahankan keyakinannya. Namun cerita horor tetap menjadi bagian yang paling sering dicari. Bahkan kini, permintaan penonton bisa terbaca dari media sosial dan grup WhatsApp yang mereka miliki.

“Hits-nya kita tetap di horor, karena itu yang sering diminta oleh masyarakat,” kata Sudariana.

Penonton boleh datang untuk merasakan ketegangan dan bikin bulu kuduk merinding. Tetapi mereka selalu pulang membawa sesuatu yang lain. Sebab di antara kegelapan, suara musik, dan tokoh-tokoh menyeramkan, selalu ada pesan yang disisipkan. Tentang kebaikan dan keburukan, tentang pilihan, tentang konsekuensi, dan tentang keyakinan bahwa kebaikan pada akhirnya akan menemukan jalannya. Lalu ketika ketegangan mulai terlalu tinggi, humor muncul di tengah pertunjukan.

“Orang yang sudah tegang, orang yang marah, pasti kita selipkan hiburannya, yang semua penonton bisa ketawa,” tuturnya. 

Tradisi yang Tetap Ada

Hampir 100 tahun tentu mengubah banyak hal. Penonton sekarang tidak sama dengan penonton beberapa dekade lalu. Cara bercerita pun ikut bergerak. Dulu, penonton bahkan bisa diajak naik ke panggung untuk menari atau terlibat dalam pertunjukan. Kini bentuk interaksi itu telah banyak berubah. Teknologi juga mulai mengambil tempat. Musik dan tata suara digunakan untuk memperkuat suasana. Efek suara membantu membangun ketegangan yang dahulu lebih banyak mengandalkan teknik konvensional. 

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut berubah: pakem. Sebelum pertunjukan, tarian tetap hadir. Struktur pertunjukan tetap berangkat dari tradisi yang diwariskan. Warna Sunda tetap menjadi bagian dari identitas. Bagi Sudariana, mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perubahan. Justru sebaliknya. Tradisi harus bisa berjalan bersama zaman tanpa kehilangan alasan mengapa ia ada.

“Secara warna kita tetap punya identitas yang berbeda dari seni teater lainnya,” ujarnya.


Panggung untuk Siapa Saja

Zaman boleh berubah, tetapi semangat untuk belajar teater tetap menyala. Setiap selesai pertunjukan, bagi mereka yang tinggal di balik panggung, pertunjukan itu belum benar-benar berakhir. Karena keesokannya, ketika sebagian orang masih menikmati sisa akhir pekan, anak-anak Miss Tjitjih berinisiatif untuk belajar mengulang adegan yang mereka tonton semalam.

Ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar, remaja, bahkan pemain yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang seni. Mereka datang ke tempat yang sama, mempelajari gerak, musik, tari, dialog, dan cerita yang telah diwariskan lintas generasi. Di situlah Sudariana, melihat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar keberlangsungan sebuah pertunjukan, yaitu regenerasi.

“Besok pagi hari Minggu, anak-anak kita yang masih SD itu bakal bikin pertunjukan yang sama dengan konsep mereka yang bikin,” kata Sudariana.

Baginya, pemandangan itu cukup untuk membuat satu kekhawatirannya menjadi sedikit lebih ringan, bahwa seni tradisi tidak akan ditinggalkan oleh generasinya sendiri.

Menariknya, wajah Miss Tjitjih tidak seluruhnya berasal dari satu latar budaya. Beberapa pemain yang tampil tidak semuanya orang Sunda. Ada pula orang dari luar kelompok yang awalnya hanya datang mengikuti latihan.

“Ada tiga pemeran yang orang luar, tetapi sering ikut latihan di kita dan akhirnya mereka anggap saja jadi anggota kita. Yang tampil, yang cerita tidak murni seniman asli Miss Tjitjih. Ada pemeran utama yang bukan orang Sunda,” ucapnya. 

Lama-kelamaan mereka tertarik untuk bergabung. Miss Tjitjih pun membuka pintu untuk mereka yang sudah memiliki pengalaman seni maupun mereka yang datang dengan tangan kosong.

“Yang nol, tidak punya basic tetap bisa belajar kesini, karena Miss Tjitjih terbuka untuk semua kalangan,” ujar Sudariana.

Di situlah kesenian tradisi menemukan bentuk lain dari regenerasi dengan memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk jatuh cinta kepada seni tersebut. Karena mungkin kecintaan terhadap tradisi tidak selalu diwariskan melalui darah, kadang ia tumbuh karena seseorang datang, mencoba, lalu menemukan rumah.

Agar Panggung Tidak Kehilangan Rumah

Sudariana pun berharap bukan hanya agar Miss Tjitjih terus bertahan, tetapi agar semakin banyak ruang tersedia bagi para seniman untuk berkarya. Menurutnya, pemerintah, akademisi, dan industri memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan seni pertunjukan berbasis komunitas. Ia bersyukur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama ini memberikan dukungan dan berharap pendampingan tersebut dapat terus konsisten.

“Permintaan yang paling besar adalah berikanlah ruang-ruang yang lebih luas untuk seniman untuk berkarya,” katanya.

Panggung Seni yang Abadi

Hari ini, sekitar 137 orang masih menjadi bagian dari kehidupan Miss Tjitjih. Mereka adalah pemain, penari, pemusik, dan orang-orang yang terus menghidupkan roda kesenian tersebut. Semangat itu, bagi Sudariana, kembali kepada sosok yang namanya mereka bawa, Nyi Tjitjih.

Ia mengingat bagaimana sang primadona dahulu tetap berjuang untuk pertunjukan hingga akhir hidupnya. Kisah itu menjadi semacam motivasi bagi generasi yang datang setelahnya.

“Nyi Tjitjih sudah mati, tetapi napas seninya tetap abadi. Itulah yang bisa menguatkan dan memberikan semangat yang paling utama buat kami.” tutup Sudariana.

Reporter: Shabrina Saraswati & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP