Tari Kembang Kemayoran, Simbol Keberanian Jawara Betawi dalam Sosok Perempuan

Perkembangan kota Jakarta menuju kota global tentu tidak melupakan akar budayanya. Oleh karena itu, budaya betawi terus menemukan cara untuk tetap hidup dan berkembang. Salah satunya melalui Tari Kembang Kemayoran, sebuah tari kreasi betawi yang lahir dari semangat pelestarian budaya sekaligus upaya menghadirkan identitas seni khas Jakarta Pusat.

Tarian ini diciptakan pada tahun 2021 melalui program Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat yang memberikan ruang bagi para sanggar dan koreografer muda untuk menciptakan karya tari kreasi betawi baru. 

Kepercayaan itu diberikan kepada Sanggar Gaya Tari Nusantara yang dipimpin Santi Kristiana bersama tim kreatifnya yaitu, Penata Tari Ery Yovan Anggara, Asisten Penata Tari dan Kostum Santi Kristiana, serta Penata Musik Samsudin dari Sanggar Margasari. Dari proses kreatif tersebut lahirlah Tari Kembang Kemayoran, sebuah karya yang mengangkat sejarah dan semangat masyarakat Kemayoran.

“Pada saat itu Sudin Kebudayaan Jakarta Pusat ingin membuat satu ikon Jakarta Pusat khususnya untuk bidang seni tari. Alhamdulillah saya bersama tim diberikan kepercayaan untuk bisa menggarap sebuah tari kreasi betawi baru yaitu, Tari Kembang Kemayoran,” ujar Santi.

Terinspirasi dari Semangat Jawara Kemayoran

Bagi orang Betawi, sebutan Macan Kemayoran sudah melekat di tengah kehidupan masyarakatnya. Murtado dikenal sebagai jawara yang memiliki keberanian dan ketangguhan dalam membela masyarakat kecil pada masa penjajahan Belanda. Spirit itulah yang kemudian menjadi napas utama dalam penciptaan Tari Kembang Kemayoran.

“Karena kebetulan saya wilayahnya di Kemayoran, jadi di situ saya ingin mengangkat historikal dari wilayah Kemayoran itu sendiri. Jadi Tari Kembang Kemayoran ini terinspirasi dari spirit keberanian jawara Kemayoran. Kita tahu Murtado yang dijuluki sebagai Macan Kemayoran memiliki kegigihan dan ketangguhan untuk membela rakyat kecil pada masa penjajahan Belanda,” kata Santi.

Namun tarian ini tidak semata-mata mengisahkan sosok Murtado. Lebih jauh, tarian tersebut menggambarkan karakter masyarakat Kemayoran yang tetap teguh menjaga tradisi sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.

“Cerita Tari Kembang Kemayoran menggambarkan keberanian dan ketangguhan masyarakat Kemayoran yang tetap hidup berdampingan menjaga tradisi dan menerima nilai-nilai positif dari modernisasi Jakarta yang terus berkembang sampai saat ini,” jelasnya.


Jawara yang Hadir dalam Sosok Perempuan

Meski inspirasi utamanya berasal dari seorang jawara laki-laki, para pencipta tari memilih menghadirkan tokoh utama perempuan sebagai representasi semangat tersebut. Dari sinilah nama “Kembang Kemayoran” lahir.

“Kalau jawara yang menjadi inspirasi sebelumnya adalah Murtado yang laki-laki, tetapi yang menarikan karya ini perempuan. Saya tetap ingin mengangkat sisi feminimnya, makanya diberi nama Kembang. Jadi walaupun jawara, jawaranya adalah perempuan yang bisa disimbolkan oleh bunga atau kembang,” tutur Santi.

Kembang atau bunga sendiri melambangkan kelembutan, keindahan, dan keanggunan. Namun dalam Tari Kembang Kemayoran, simbol tersebut dipadukan dengan karakter keberanian, ketangguhan seorang jawara dalam berjuang membantu masyarakat yang lemah. 

Perpaduan dua karakter yang tampak berlawanan itu justru menjadi kekuatan utama tarian ini, yaitu tentang seorang perempuan yang lembut, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk berdiri teguh menjaga tradisi dan menghadapi tantangan zaman. 

Perpaduan Gerak Tradisi Betawi dan Filosofi Kostum Jawara Perempuan 

Secara koreografi, Tari Kembang Kemayoran menggabungkan berbagai unsur kesenian Betawi. 

“Gerakannya terinspirasi dari tari topeng, silat, tari cokek dan beberapa inspirasi gerak tari modern/kontemporer.” ujar Santi.

Unsur silat memberikan kesan tegas dan gagah yang merepresentasikan jiwa jawara. Sementara tari Topeng dan Cokek menghadirkan kelembutan serta estetika khas perempuan Betawi. Perpaduan ketiganya menghasilkan gerakan yang dinamis, kuat, sekaligus anggun.

Tidak hanya gerakan, kostum Tari Kembang Kemayoran juga dirancang khusus untuk memperkuat karakter yang ingin ditampilkan. Santi menjelaskan bahwa sanggul yang digunakan terinspirasi dari sosok pendekar perempuan masa lampau. Sementara mahkota berwarna emas dipilih agar tetap terlihat elegan dan mudah dipadukan dengan kostum.

“Untuk sanggul, saya memilih yang terinspirasi dari pendekar-pendekar wanita zaman dulu yang rambutnya menjuntai panjang, tapi saya bikin bentuknya tidak menyulitkan penari pada saat gerak. Sedangkan mahkotanya dibuat sederhana tetapi tetap elegan dengan corak emasnya," katanya.

Tarian ini juga menggunakan ornamen burung hong yang merupakan salah satu elemen khas budaya betawi. Adapun warna kostumnya didominasi jingga atau oranye yang identik dengan julukan Macan Kemayoran.

“Karena nuansanya Macan Kemayoran yang biasanya terkenal dengan warna jingga atau oranye, maka saya angkat warna oranye itu,” tambahnya.


Ikon Baru Kebudayaan Jakarta Pusat

Dari setiap gerakan Tari Kembang Kemayoran, tersimpan pesan tentang keberanian, ketangguhan, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Karya tari ini menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus berkembang melalui sentuhan kreativitas generasi muda yang ingin melestarikan budaya tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Sebagai tari kreasi Betawi yang lahir dari Jakarta Pusat, Tari Kembang Kemayoran menjadi simbol identitas masyarakat Kemayoran. Ia menghadirkan kembali semangat Macan Kemayoran dalam wujud yang baru: sosok perempuan Betawi yang anggun, berani, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Melalui Tari Kembang Kemayoran, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi ia terus bergerak, menari, dan hidup di tengah masyarakat Jakarta hingga hari ini.

Untuk diketahui, Sanggar Gaya Tari Nusantara sudah berkancah hingga dunia internasional di antaranya, Brazil, South Africa, China, Korea Selatan, Jepang, Myanmar, Bangkok Thailand, Colombo, Turki, Mesir, Singapore, Brussel, hingga Venezia Italia.

Reporter: Shabrina Saraswati & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP