Meracik Identik Sekolah Sepak Bola Gratis yang Dirintis oleh Asep Supriadi

Gegap gempita piala dunia Meksiko 2026 telah usai. Beragam drama permainan kelas dunia disuguhkan oleh para bintang lapangan hijau tersebut. Tidak kurang dari 48 negara kontestan mengikuti ajang bergengsi sepak bola empat tahunan itu.

Keberadaan sepak bola di Indonesia sudah cukup masyhur dihati para warga masyarakat. Tidak ada pembeda status sosial, tua maupun muda, kaya ataupun miskin, pria dan juga wanita ikut meramaikan khasanah si kulit bundar di Indonesia.

Ada kesedihan dibalik meriahnya Piala Dunia 2026. Gagalnya Indonesia melaju ke Piala Dunia membuat Asep Supriadi melakukan pergerakan yang ujungnya akan membantu Indonesia masuk Piala Dunia. 


Asep Supriadi, pria yang tinggal di Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat ini bukanlah seseorang yang lahir dari keluarga berada. Namun, berkat bekal ilmu ketika kuliah jurusan DKV Advertising, bekerja di beberapa perusahaan startup, dan setiap sore hari bekerja sambilan sebagai driver ojek online membuat dirinya mendapatkan ide Indonesia masuk Piala Dunia 2030.

"Ya… mencari bakat pesepak bola cilik akar rumput". Begitulah yang dilakukan Asep. Dirinya mengisahkan awal mula kecemplung di dunia perintis ini yaitu saat mengikuti sekolah sepak bola sewaktu kecil. Kemudian berjalannya waktu, minimnya daya juang membuat kesempatan menjadi pesepak bola profesional sirna. Alhasil Asep memutuskan untuk gantung sepatu.

Asep yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dan kini menetap hanya dengan ibunya, sementara bapaknya berpulang ke rahmatullah pada 2025 silam.

Memulai riset untuk bikin sekolah sepak bola yang memperhatikan tentang masa depan. Pada awalnya riset yang dilakukan ini dibuat komersil, tapi setelah di validation market cocoknya dibuat gratis untuk anak-anak yang terhalang oleh uang.


Menurutnya, sekolah sepak bola gratis yang beliau rintis ini sebagai bentuk aspirasi kepada masyarakat menengah ke bawah "kalau nggak punya uang, tunjukkin daya juang. Karena kalau mereka punya bakat, pasti dikasih tempat". Terbukti baru satu tahun berjalan, 33 anak mendapatkan beasiswa ke berbagai sekolah sepak bola dan beberapa media hingga brand mendukung pergerakan ini dalam bentuk endorse dan beli jersey.

“Jadi saya melihat market yang besar yaitu untuk menengah ke bawah. Mulai 2024 lalu membuka sekolah bola gratis, lantas pergerakannya dikontenin. Jadi subsidi silangnya bukan dari pemungutan biaya anak-anak yang ikut sekolah, tapi dari brand, sampai kemarin le mineral mengajak suting bersama Maartin Paes, Alhamdulillah perlahan sudah banyak brand yang melirik untuk berkolaborasi, termasuk juga dari penjualan jersey,” tutur dari pria 28 tahun ini.

Asep yang kini bekerja sebagai Freelance Social Media Community dan juga kadang menjadi ojek online ini melakukan blusukan saat sedang membawa penumpang. 

“Seumpama saat saya dapat orderan ojek online, masuk gang gitu dan melihat ada yang sedang bermain bola. Saya amati anak-anak tersebut dan kemudian bertanya nih kepada mereka, dari mereka menjawab ada yang berenti sekolah sepak bola karena terbelenggu masalah uang atau ada pula yang tidak tahu cara menjadi pemain sepak bola profesional sedari dini itu seperti apa. Pada saat itulah momen saya dapat memperkenalkan meracik identik kepada anak-anak tersebut,” ungkap Asep.

Hingga saat ini sudah banyak yang bergabung untuk latihan bola bersama. Asep membatasi usia peserta didiknya yaitu 6-15 tahun untuk berlatih bersama dirinya. Sementara untuk jadwal latihan yaitu pada hari Kamis Pukul 14.00 sampai 16.00 di lapangan Borobudur (Pegangsaan) dan Sabtu pukul 11.00-13.00 di Stadion VIJ (Cideng).

“Alhamdulillah sejauh ini pengorbanan dan perjuangannya sudah cukup berdampak secara luas. Banyak dari orang tua murid memberikan testimoni positif, baik di WA, IG maupun DM di tiktok,” ujar Asep.

Ke depan, Asep memiliki impian dan target untuk melebarkan sayap yakni keliling Indonesia mencari bakat terpendam dari bocah-bocah cilik. Karena menurutnya, kualitas anak di Jakarta untuk bermain di lapangan sungguhan kurang bagus dalam hal ketahanan fisik. Lagi dan lagi minimnya ketersedian lahan besar untuk berlatih secara mumpuni itu yang membuat kurang berkembang.


Menyoal keberhasilannya menjadi yang terbaik mewakili Jakarta Pusat dalam ajang ‘Pemuda Pelopor bidang pendidikan tahun 2026’ ini Asep menuturkan, ini merupakan kesempatan dirinya untuk menyampaikan aspirasi terlebih terkait sepak bola yang cukup digandrungi bukan hanya di Jakarta ataupun Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Asep yang merupakan lulusan SI jurusan periklanan ini menjelaskan beberapa dampak dalam meracik identik, yaitu 50 anak binaannya mendapatkan coaching clinic gratis oleh tim sepak bola dari Jerman, 33 anak mendapatkan beasiswa diberbagai macam sekolah sepak bola, 10 anak diajak syuting iklan Le Minerale Future Champ bersama Rizky Ridho, Maarten Paes, Beckham Putra, dan Ragnar Oratmangoen, selanjutanya 3 anak mengikuti coaching clinic gratis bersama legenda Barcelona (David Villa) dan Real Madrid (Raul Gonzalez), kemudian ada 15 anak mendapatkan training kit dari tim sepak bola Austraslia serta 15 anak perempuan mendapatkan coaching clinic gratis bersama brand Dove.

“Ke depan saya berharap pemerintah dapat berpera lebih dalam hal menuntun bakat dari pesepak bola cilik. Seumpama di SDN, ada jam khusus untuk diajarkan teknik-teknik dasar, seperti menggiring dan mengoper dengan menggunakan bola bliter, karena kebanyakan anak di Jakarta ini hanya bermain dengan bola plastik. Sedangkan sepak bola sungguhan menggunakan bola bliter,” ungkap harapan Asep.

“Selain itu, saya juga berharap disediakan bus antar jemput sekolah yang kuning untuk memfasilitasi pergi dan pulang bagi anak yang tidak memiliki kendaraan. Seperti contoh, saya mendapatkan akses untuk berlatih seminggu 3 kali di salah satu lapangan di PIK 2, namun sayangnya kesempatan itu dilewati gitu aja karena minimnya transportasi untuk anak-anak yang berlatih," imbuhnya. 

Di penghujung, Asep juga berharap dimudahkan perizinan secara gratis penggunaan lapangan sepak bola yang dikelola Sudin maupun Dinas Pemuda dan Olahrga DKI Jakarta. Hal tersebut dikemukakan untuk menunjung proses latihan di lokasi yang terdekat dari para peserta didik Meracik Identik.

Reporter: Zaki Ahmad Thohir & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP