Festival Budaya Betawi Perdana Digelar di Cempaka Putih Barat, Camat: Ini Usulan Masyarakat

Festival Budaya Betawi digelar untuk pertama kalinya di Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8). 

Kegiatan yang diisi lomba tari, lomba vokal, bazar UMKM hingga pelayanan publik itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk melestarikan budaya betawi sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan warga.

Camat Cempaka Putih Igan Muhammad Faisal mengatakan, Festival Budaya Betawi tersebut berawal dari aspirasi masyarakat, bukan semata-mata program pemerintah kecamatan maupun kelurahan.

“Ini bukan semata-mata ujug-ujug ada. Bukan usul lurah, bukan usul camat. Usul dari masyarakat itu sendiri,” kata Igan dalam sambutannya.

Menurut Igan, aspirasi tersebut kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak hingga akhirnya dapat diwujudkan menjadi sebuah kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.

Ia mengapresiasi dukungan unsur pemerintah daerah, karang taruna, para ketua RW dan RT, FKDM, LMK, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak lainnya yang ikut menyukseskan kegiatan.

Igan menilai Festival Budaya Betawi penting untuk menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman. Terlebih, Jakarta merupakan daerah yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya.

“Jakarta tidak hanya dihuni oleh satu suku, tetapi berbagai macam suku. Dan itu harus kita jaga, harus kita rawat,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara perdana, tetapi dapat menjadi agenda rutin dan dikembangkan pada tingkat kecamatan.

“Ini paling tidak memacu saya juga. Mudah-mudahan harus jadi,” kata Igan.

Dalam kesempatan ini, Igan juga mengajak warga memperkuat kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, khususnya persoalan pemilahan sampah.

Ia meminta masyarakat tidak menyerahkan sepenuhnya persoalan kebersihan kepada petugas. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi persoalan sampah sejak dari sumbernya.

Igan juga meminta para ketua RW, RT, FKDM, dan masyarakat ikut mengawasi sejumlah titik yang rawan menjadi lokasi pembuangan sampah.

“Kita sudah tempatkan piket di titik-titik rawan sampah. Saya ingin didampingi teman-teman RT, RW, FKDM, dari warga masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan petugas kebersihan bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan kewajibannya menjaga lingkungan.

“Mari kita lakukan pilah sampah. Mari kita bereskan dari dalam diri kita sendiri,” kata Igan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Basri Baco mengungkapkan, ide awal kegiatan tersebut muncul ketika dirinya melakukan reses di RW 7 Cempaka Putih Barat. Saat itu, warga menyampaikan aspirasi agar digelar kegiatan yang dapat menjadi sarana menjaga dan melestarikan budaya betawi.

“Memang ide acara ini bermula ketika reses saya di RW 7. Ada permintaan bahwa diadakan kegiatan untuk menjaga budaya betawi,” ujar Basri.

Aspirasi tersebut kemudian ditindaklanjuti bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, karang taruna, para ketua RW, serta satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait.

Basri mengapresiasi kekompakan seluruh pihak yang mampu merealisasikan kegiatan tersebut dalam waktu relatif singkat.

“Dengan semangat kebersamaan, kekompakan, kerja sama dan sama-sama kerja, semua Sudin yang terkait, karang taruna, para RW. Alhamdulillah acara hari ini bisa terlaksana dengan baik,” katanya.

Menurut Basri, kegiatan tersebut merupakan contoh nyata kolaborasi antara unsur eksekutif, legislatif, masyarakat, dan organisasi kepemudaan. Ia bahkan menilai kegiatan serupa masih jarang ditemukan di tingkat kelurahan di Jakarta.

“Di Jakarta ada 267 kelurahan, belum tentu ada 10 kelurahan yang mampu buat begini. Jadi harus kita hargai, harus kita hormati semua pihak, semua orang yang telah membantu bekerja keras agar acara ini bisa terwujud,” ujar Basri.

Basri mengatakan, Festival Budaya Betawi tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Selain lomba tari dan vokal yang melibatkan anak-anak, kegiatan tersebut turut memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Sejumlah layanan masyarakat juga dihadirkan, termasuk layanan administrasi kependudukan dan pelayanan lainnya.

“Tujuannya adalah pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya Betawi,” ucapnya.

Basri juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya betawi merupakan tanggung jawab bersama, termasuk bagi warga Jakarta yang bukan berasal dari suku Betawi.

“Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Walaupun kita banyak juga yang bukan asli Betawi, tapi kita punya kewajiban untuk melestarikan budaya Betawi,” katanya.

Basri Baco berharap Festival Budaya Betawi di Cempaka Putih Barat dapat menjadi agenda tahunan dengan penyelenggaraan yang semakin besar dan meriah.

Ia juga mendorong agar konsep serupa dapat dikembangkan di kelurahan lain, kemudian ditingkatkan menjadi kegiatan pada tingkat kecamatan.

“Semoga acara ini bisa berlangsung dengan aman, meriah, kreatif serta semuanya gembira. Insyaallah tiap tahun acara ini kita buat dan makin hari makin besar atau makin meriah,” ujarnya.

"Semoga dapat ditularkan ke Kelurahan Cempaka Putih Timur dan Rawasari sehingga pelestarian budaya betawi dan pemberdayaan masyarakat dapat berlangsung lebih luas di Kecamatan Cempaka Putih," tandasnya.

Reporter: R Maulana Yusuf & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP