<p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Jakarta Pusat merupakan
bagian dari sejarah panjang kota Jakarta yang bermula dari sebuah pelabuhan
kecil di muara Sungai Ciliwung pada abad ke-14 yang dikenal dengan nama Sunda
Kalapa, pelabuhan utama Kerajaan Sunda yang ramai dikunjungi pedagang dari
berbagai bangsa. Pada 22 Juni 1527, pelabuhan ini direbut oleh Pangeran
Fatahillah dari Kesultanan Demak dan namanya diubah menjadi Jayakarta, yang
menjadi cikal bakal kota Jakarta dan diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta
hingga kini. <o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Pada awal abad ke-17,
Belanda melalui VOC (<i>VereenigdeOostindischeCompagnie</i>) mengambil alih
Jayakarta dan membangun pusat kekuasaannya di atas reruntuhan kota itu,
mengganti namanya menjadi Batavia dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan
kolonial Belanda di Nusantara. Kawasan yang kini berada di Jakarta Pusat
seperti Gambir dan sekitarnya menjadi area elite administrasi dan permukiman
pada masa kolonial. <o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Saat Perang Dunia II,
Jepang menduduki Hindia Belanda dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta
(Jakarta TokubetsuShi). Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, Jakarta
ditetapkan sebagai Ibu Kota Republik Indonesia dan pusat pemerintahan nasional,
yang makin memperkuat peran wilayah Jakarta Pusat sebagai jantung pemerintahan,
politik, dan administrasi negara. <o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" align="center" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;
margin-bottom:12.0pt;margin-left:0cm;text-align:center"><b><span lang="id" style="font-size: 18pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Kantor
Walikotamadya Jakarta Pusat<o:p></o:p></span></b></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Kantor Wali Kota Jakarta
Pusat berdiri di atas lahan bekas pemakaman Belanda, sebagai bagian dari
program pembangunan sarana pelayanan pemerintahan yang digagas Gubernur Ali
Sadikin. Gedung ini menjadi kantor wali kota representatif terakhir yang
berhasil dibangun, karena keterbatasan lahan di kawasan Jakarta Pusat. Sebelum
memiliki gedung sendiri, pusat pemerintahan Kotamadya Jakarta Pusat sempat
berlokasi di Jalan Pegangsaan Barat.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Rencana pembangunan
kantor wali kota sebenarnya telah muncul sejak tahun 1969. Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta saat itu menjajaki sejumlah lokasi potensial untuk menampung
pemerintahan yang membawahi delapan kecamatan; Gambir, Sawah Besar, Kemayoran,
Senen, Cempaka Putih, Menteng, Tanah Abang, dan Johar Baru. Beberapa alternatif
lahan yang dipertimbangkan antara lain bekas area Kodam Jayakarta (kini menjadi
parkiran timur Masjid Istiqlal) serta Gedung Bappenas.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Namun, rencana pertama
di lahan parkir Masjid Istiqlal tidak terealisasi. Sementara itu, wacana
menjadikan Gedung Bappenas sebagai kantor wali kota ditolak langsung oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebagaimana diberitakan harian <i>Kompas</i>.
Baru pada tahun 1976, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil memperoleh lahan
seluas 3,5 hektar di Jalan Tanah Abang I, yang sebelumnya merupakan pemakaman
Belanda. Lahan inilah yang kemudian ditetapkan sebagai lokasi pembangunan
Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.</span><span style="font-size: 12pt;"> </span></p><p class="MsoNormal" align="center" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;
margin-bottom:12.0pt;margin-left:0cm;text-align:center"><b><span lang="id" style="font-size: 18pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Jakarta
Pusat sebagai “Jantung Ibu Kota”</span></b><span lang="id" style="font-size: 18pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;"><o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Pada tahun 1912, kawasan
Menteng di Jakarta Pusat mulai dikembangkan sebagai hunian bagi pegawai
pemerintah kolonial Hindia Belanda serta kalangan elit pada masa itu. Sejak
saat itu, Jakarta Pusat berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus
permukiman di era kolonial, sehingga banyak bangunan bergaya arsitektur Belanda
dan peninggalan kolonial masih dapat dijumpai hingga kini.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Memasuki masa revolusi kemerdekaan,
Jakarta Pusat berperan penting sebagai pusat pergerakan nasional, ditandai
dengan berbagai peristiwa bersejarah yang berpuncak pada proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia. Kemudian, sejak tahun 1966 wilayah ini memperoleh status
sebagai Kota Administrasi yang berada di bawah Provinsi DKI Jakarta. Status
tersebut secara resmi ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun
1978 mengenai pembentukan wilayah kota dan kecamatan di Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Pada tahun 1966, Jakarta
Pusat resmi dibentuk bersama empat kota administrasi lainnya, menandai awal
pengelolaan wilayah Jakarta secara lebih terstruktur. Seperti halnya kota
administrasi lain, Jakarta Pusat berkembang menjadi pusat bisnis dan
perkantoran dengan dukungan infrastruktur yang modern dan memadai. Namun, di
balik wajah modernnya, kawasan ini juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya,
berupa peninggalan masa kolonial serta jejak perjuangan bangsa yang masih
terpelihara hingga kini.<o:p></o:p></span></p><p style="padding: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; color: rgb(117, 117, 117); line-height: 24px; font-family: Poppins, sans-serif; font-size: 14px; text-align: justify;">
</p><p class="MsoNormal" style="margin-top:12.0pt;margin-right:0cm;margin-bottom:
12.0pt;margin-left:0cm;text-align:justify"><span lang="id" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Kota Administrasi
Jakarta Pusat merupakan salah satu dari lima kota administrasi yang berada di
Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Sebagai wilayah yang terletak di jantung
ibu kota, Jakarta Pusat dikenal sebagai kota administrasi terkecil di Provinsi
DKI Jakarta, namun memiliki peran strategis karena menjadi pusat pemerintahan,
bisnis, dan berbagai aktivitas penting.<o:p></o:p></span></p><span lang="id" style="font-size:11.0pt;line-height:115%;font-family:"Arial","sans-serif";
mso-fareast-font-family:Arial;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language:
EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"></span>