Menumbuhkan Percaya Diri dan Merajut Mimpi Anak Petamburan Lewat Fun English

Selembar kain, warna-warni alat membatik, dan tawa anak-anak mewarnai kegiatan di RPTRA Kelurahan Petamburan, Jakarta Pusat. Siang itu, mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga berkreasi melalui kegiatan membatik. Belajar pun terasa berbeda, lebih santai, menyenangkan, dan jauh dari kesan membosankan.

Inilah suasana Fun English, program yang diinisiasi Kelurahan Petamburan bersama TP PKK Kelurahan Petamburan untuk mengenalkan bahasa Inggris kepada anak-anak sejak dini. Setiap Sabtu pukul 13.00 WIB, sekitar 20 anak berkumpul untuk belajar, bermain, bernyanyi, dan mencoba berbagai kegiatan kreatif.

“Makanya kita sebut Fun English, jadi belajar tapi juga dengan senang hati. Tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga ada prakarya lainnya,” ujar Ketua TP PKK Kelurahan Petamburan Melanie Mas’ud.

Program yang telah berjalan sejak 2024 ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar secara gratis. Didukung Kelurahan Petamburan melalui dana DAU, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan bahasa sekaligus kreativitas mereka.

Bagi Melanie, kemampuan berbahasa Inggris merupakan bekal penting bagi anak-anak untuk menghadapi masa depan. Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris diharapkan dapat membuka kesempatan lebih luas bagi mereka untuk belajar, berkomunikasi, dan mengenal dunia.

“Harapannya, anak-anak ini bisa belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, yang nantinya bisa mempersiapkan mereka di kancah internasional,” tuturnya.

 Dari Malu-Malu Menjadi Lebih Percaya Diri

Perjalanan Fun English tidak hanya terlihat dari materi yang dipelajari, tetapi juga dari perubahan sikap anak-anak ketika mengikuti kelas. Melanie bercerita, pada awal pelaksanaan, kehadiran peserta masih belum konsisten. Namun, seiring berjalannya waktu, partisipasi anak-anak meningkat dan pembelajaran mulai diarahkan menggunakan silabus serta perencanaan materi.

Anak-anak yang sebelumnya malu-malu kini mulai berani memperkenalkan diri, bernyanyi, dan berhitung menggunakan bahasa Inggris. Perubahan sederhana itu menjadi salah satu perkembangan yang disyukuri oleh para pengelola kegiatan.

“Kalau dari anak-anak, mereka sudah mulai mau memperkenalkan diri dan bernyanyi. Tadinya malu-malu, belum percaya diri, sekarang sudah mulai pede,” kata Melanie.

Materi yang diberikan pun tidak selalu berupa membaca buku atau mengerjakan soal. Pada satu pertemuan, anak-anak dapat belajar berhitung dalam bahasa Inggris. Pada kesempatan lain, mereka diajak melukis di atas kanvas atau membatik kain. Variasi kegiatan tersebut membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan dunia anak-anak.

Salah satu peserta, Kia mengaku senang mengikuti kegiatan ini karena bisa bertemu banyak teman sekaligus belajar bahasa Inggris. Ia mulai mengikuti kelas tersebut pada Desember 2025.

“Senang sih, soalnya aku juga ketemu banyak teman. Bahasa Inggrisnya lumayan, jadi membantu pelajaran bahasa inggris sekolah,” ungkapnya.

Cerita serupa disampaikan Niza, peserta yang bergabung sejak Juli 2026. Ia memiliki keinginan untuk lebih lancar berbicara bahasa Inggris, baik untuk mendukung pelajaran di sekolah maupun untuk bekal ketika dewasa nanti.

“Biar bahasa Inggrisnya lebih lancar. Kalau misalnya aku kerja di Inggris, bisa bahasa Inggris jadi lancar kalau ngomong sama teman. Terus kalau diajarin guru, aku juga ngerti apa yang diajarin,” ujar Niza.

Meski ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, Niza juga memiliki kegiatan favorit yang membuatnya semakin bersemangat datang ke kelas.

“Yang paling aku suka pas bikin lukisan, mewarnai,” tambahnya.


 Ketika Warga Turut Menjadi Guru

Keseruan belajar di RPTRA Petamburan tidak lepas dari peran para pengajar sukarelawan yang berasal dari lingkungan sekitar. Salah satunya Abdul Hasan, warga Petamburan yang bergabung sebagai pengajar pada akhir 2025.

Berbekal pengalamannya sebagai dosen paruh waktu, Hasan mencoba menghadirkan metode belajar yang sesuai dengan karakter anak-anak masa kini.

Permainan, musik, dan hadiah sederhana menjadi selingan untuk menjaga perhatian peserta selama pembelajaran.

“Kalau metode pengajarannya seperti zaman dulu, mungkin menurut mereka kurang menarik. Jadi saya selipkan permainan, musik, dan biasanya di akhir permainan ada hadiah supaya mereka tertarik ikut belajar,” jelas Hasan.

Namun, bagi Hasan, mengajar bukan semata-mata menyampaikan materi bahasa Inggris. Ia juga ingin membantu anak-anak membangun keberanian berbicara, berkomunikasi dengan baik, dan memiliki sikap santun sejak dini.

Ia berusaha mengenal latar belakang setiap anak, termasuk lingkungan sekolah dan cita-cita mereka. Dari percakapan sederhana itu, Hasan mencoba memberikan dorongan agar anak-anak menghargai berbagai pekerjaan dan memahami pentingnya berusaha untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Yang saya coba bangun bukan hanya bahasa Inggrisnya. Saya juga ingin mereka belajar berkomunikasi, berani tampil, dan punya pengalaman yang baik sejak kecil,” tuturnya.

Pendekatan tersebut membuat kegiatan belajar tidak hanya berpusat pada buku dan pelajaran. Anak-anak juga memperoleh ruang untuk bercerita, menyampaikan pendapat, serta belajar menghargai teman-temannya.


 Ruang Tumbuh untuk Masa Depan

Dukungan terhadap Fun English juga datang dari Kelurahan Petamburan. Lurah Petamburan Rian Hermanu mengatakan, kegiatan tersebut sejalan dengan 10 Program Pokok PKK, khususnya Pokja II yang berfokus pada pendidikan dan keterampilan.

“Kelurahan mendukung kegiatan Fun English ini karena bahasa Inggris merupakan bahasa dunia dan anak-anak bisa mulai mempelajarinya sejak dini,” ujar Rian.

Rian berharap kegiatan ini dapat terus berjalan melalui program tahunan yang telah direncanakan. Kehadiran sukarelawan dari lingkungan setempat juga menjadi modal penting agar pembelajaran dapat terus berkembang dan menjangkau anak-anak yang membutuhkan ruang belajar tambahan.

Di RPTRA Petamburan, belajar bahasa Inggris kini bukan sekadar menghafal kosakata atau menjawab pertanyaan. Ada keberanian yang perlahan tumbuh, pertemanan yang terjalin, dan cita-cita yang mulai berani diucapkan.

Dari permainan sederhana hingga selembar kain batik hasil karya sendiri, setiap pertemuan menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal kemampuan mereka. Sebab, terkadang langkah kecil menuju masa depan dimulai dari ruang belajar sederhana, dengan guru yang peduli dan suasana yang membuat anak-anak berani mencoba.

Reporter: R Maulana Yusuf & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP