Berawal dari Hobi, Kampung Bonsai Bermimpi Jadi Destinasi Wisata Jakarta

Berawal dari hobi merawat tanaman, sekelompok warga Kelurahan Kampung Bali, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, berhasil mengembangkan komunitas bonsai yang kini memiliki potensi sebagai daya tarik kawasan.

Tanaman yang semula terlihat biasa di tangan mereka berubah menjadi karya seni bernilai ekonomi, sekaligus membuka peluang usaha dan ruang belajar bagi masyarakat.

Komunitas yang dirintis sejak 2019 ini tumbuh dari kebiasaan warga berkumpul untuk belajar membuat bonsai secara mandiri. Salah satu penggeraknya, bernama Ayong. ia mengaku awalnya hanya tertarik mengoleksi tanaman. Namun, keinginannya memiliki bonsai berukuran mini mendorongnya untuk mencoba membuat sendiri karena tanaman dengan ukuran tersebut tidak mudah ditemukan di pasaran.

“Awalnya saya hobi, beli satu, lalu mencari tanaman kecil-kecil yang ternyata tidak banyak tersedia di pasaran. Akhirnya saya mencoba membuat sendiri. Tanpa terasa, jumlahnya sampai ribuan pohon,” ungkap Ayong, Senin (26/10/2026).

Proses tersebut dijalaninya dengan belajar secara otodidak, mencoba berbagai teknik, dan memahami karakter setiap tanaman. Ketekunan itu perlahan membuahkan hasil. Bonsai mini yang dikembangkannya mulai menarik perhatian masyarakat setelah diperkenalkan melalui media sosial pada masa pandemi COVID-19.

“Saat saya unggah di media sosial pada masa pandemi COVID-19, bonsai ini mulai ramai diminati. Dari situ, saya melihat ternyata banyak orang yang tertarik dengan bonsai berukuran kecil,” katanya.

Bagi Ayong, membuat bonsai bukan sekadar menanam dan merawat tanaman. Ada proses panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kepekaan dalam membentuk karakter tanaman agar menghasilkan tampilan yang menarik.

“Bonsai itu tidak bisa dibuat terburu-buru. Kita harus telaten merawatnya, melihat perkembangan tanamannya, dan memahami karakter masing-masing. Setiap tanaman punya keunikan sendiri, jadi cara membentuk dan merawatnya juga berbeda,” tuturnya.


Dari Tanaman Hias, Tumbuh Peluang Ekonomi 

Kini, komunitas Kampung Bonsai memiliki tujuh anggota aktif yang bersama-sama mengembangkan keterampilan dan kreativitas. Beragam jenis tanaman dibentuk menjadi bonsai, mulai dari Asam Jawa, Beringin, Santigi, Serut, hingga Bougainvillea. Masing-masing memiliki karakter dan daya tarik tersendiri bagi pencinta tanaman hias.

Senada dengan Ayong, salah satu anggota komunitas Bonsai Kampung Bali Iboi mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi bagi para pegiatnya. Selain penjualan bonsai, terdapat kesempatan usaha melalui penyediaan pot dan jasa perawatan tanaman. Media sosial menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan koleksi sekaligus menjangkau calon pembeli dari berbagai daerah.

“Kalau bonsai ini terus dikembangkan, peluangnya cukup banyak. Bukan hanya menjual pohon bonsai, tetapi juga pot dan jasa perawatan. Apalagi sekarang promosi bisa dilakukan lewat media sosial sehingga orang dari luar Jakarta juga bisa mengenal dan melihat koleksi kami,” ujar Iboi. 

Salah satu tanaman yang ingin diunggulkan komunitas ini adalah Bonsai Asam Jawa. Tanaman tersebut diharapkan menjadi ciri khas Kampung Bali sekaligus identitas yang membedakan kawasan ini dari wilayah lainnya.

Menurut Iboi, potensi bonsai tidak hanya terletak pada nilai jual tanaman, tetapi juga pada pengalaman dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada masyarakat. Karena itu, ia ingin semakin banyak warga yang tertarik mempelajari seni bonsai dan ikut mengembangkan komunitas.

“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh beberapa orang saja. Harapannya, semakin banyak warga yang tertarik, mau belajar, dan bisa membuat bonsai sendiri. Jadi, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” katanya.

Bermimpi Menjadi Destinasi Wisata Bonsai 

Di balik ribuan tanaman yang dirawat, Ayong dan rekan-rekannya menyimpan cita-cita untuk menjadikan Kampung Bali sebagai destinasi wisata bonsai di tengah Jakarta. Mereka membayangkan koleksi bonsai menghiasi gang dan berbagai sudut lingkungan sehingga kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

“Kami ingin Kampung Bali menjadi tempat wisata bonsai di tengah kota. Masyarakat dari mana pun boleh datang untuk melihat, belajar, dan mengembangkan bonsai bersama,” tutur Ayong.

Ia berharap, pengembangan Kampung Bonsai tidak berhenti sebagai kegiatan komunitas, tetapi dapat tumbuh menjadi program berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak warga.

“Harapannya, program ini terus berjalan dan semakin banyak warga yang tertarik. Kalau lingkungan kita punya ciri khas, orang juga akan punya alasan untuk datang ke Kampung Bali,” tambahnya.


Kelurahan Dukung Penataan dan Pengembangan Kampung Bonsai 

Melihat kreativitas dan potensi ekonomi yang berkembang, Kelurahan Kampung Bali turut mendorong pengembangan Kampung Bonsai sebagai salah satu potensi unggulan wilayah. 

Lurah Kampung Bali Musa mengatakan, komunitas tersebut memiliki kemampuan mengolah tanaman yang awalnya terlihat sederhana menjadi karya bernilai seni dan jual.

“Kita melihat ada potensi yang luar biasa di sini. Teman-teman dari komunitas Kampung Bonsai sangat kreatif. Tanaman yang awalnya mungkin tidak terlalu dilirik, akhirnya bisa menjadi sebuah karya yang luar biasa,” ujar Musa.

Menurutnya, potensi tersebut perlu mendapat ruang agar semakin berkembang dan dikenal masyarakat. Karena itu, kelurahan bersinergi dengan komunitas untuk mendukung penataan kawasan sekaligus memperkenalkan Kampung Bonsai sebagai daya tarik baru di Kelurahan Kampung Bali.

“Melalui sinergi dengan komunitas, kami ingin potensi ini terus dikembangkan. Bukan hanya tanamannya yang menjadi daya tarik, tetapi juga bagaimana kegiatan ini bisa memperindah lingkungan dan memberikan manfaat bagi warga,” katanya.

Pengembangan Kampung Bonsai dilakukan di sejumlah titik, di antaranya kawasan RW 02, sekitar Pos RW 08, serta rooftop milik warga. Penataan ini diharapkan dapat menghadirkan lingkungan yang lebih menarik sekaligus memperkuat identitas kawasan melalui kreativitas masyarakat.


Ke depan, Kelurahan Kampung Bali berencana menjajaki kolaborasi dengan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) serta unsur terkait di bidang pertamanan untuk memperluas promosi hingga tingkat kota dan provinsi.

Musa berharap, kolaborasi tersebut dapat membuka kesempatan lebih luas bagi komunitas untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, sekaligus mendorong keterlibatan warga dalam membangun lingkungan.

“Harapan kami, Kampung Bonsai ini bisa semakin dikenal dan menjadi kebanggaan warga Kampung Bali. Kalau dikelola bersama dan terus dikembangkan, potensi ini bisa menjadi daya tarik kawasan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.

Dari tanaman kecil yang dirawat dengan kesabaran, warga Kampung Bali kini menumbuhkan mimpi besar. Ketekunan komunitas, kreativitas warga, dan dukungan kelurahan menjadi modal untuk menghadirkan kawasan yang lebih asri, produktif, serta memiliki identitas tersendiri. Kampung Bonsai pun diharapkan berkembang menjadi ruang belajar, sumber peluang usaha, dan destinasi wisata berbasis kreativitas masyarakat di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Reporter: R Maulana Yusuf & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP