Sikambal Kampung Bali Masuk Tiga Besar Inovasi Kelurahan DKI Jakarta, Lurah Optimistis Raih Juara

Inovasi Sistem Kampung Bali Berkelanjutan atau Sikambal yang dikembangkan Kelurahan Kampung Bali berhasil masuk tiga besar dalam ajang inovasi kelurahan tingkat Provinsi DKI Jakarta. 

Tim Pusat Riset Inovasi Daerah melakukan verifikasi faktual untuk memastikan penerapan inovasi tersebut di lapangan.

Lurah Kampung Bali Musa mengatakan, pihaknya optimistis dapat meraih hasil terbaik setelah seluruh rangkaian verifikasi dilakukan. Menurutnya, tim penilai tidak hanya melihat konsep inovasi, tetapi juga implementasi dan keberlanjutan program.

“Kita mencoba menampilkan yang terbaik, apa yang memang kita jalankan dan kita implementasikan. Sikambal ini memang sudah berjalan,” ujar Musa, Rabu (26/8). 

Musa menegaskan, keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam pengembangan Sikambal. Karena itu, program tersebut dirancang tidak hanya mengandalkan aspek sosial dan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Menurut Musa, salah satu pengembangan Sikambal adalah mengolah sampah menjadi produk bernilai jual. Salah satunya berupa boneka Sikambal yang digunakan sebagai media edukasi tanam anak sekaligus memiliki potensi menjadi produk ekonomi kreatif warga.

“Harapannya ke depan ini akan diproduksi massal oleh warga Kampung Bali sehingga menjadi ekonomi kreatif baru. Kami berharap bisa dijual di kisaran Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” katanya.

Musa menjelaskan, Sikambal memiliki empat pilar utama. Pertama yaitu Sikambal Digital yang berkaitan dengan pencatatan aktivitas bank sampah. Kedua, Kampung Bali Magot, yakni pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan magot.

"Melalui program tersebut, Kelurahan Kampung Bali telah mampu mengolah sekitar satu ton sampah organik setiap bulan dari wilayah RW 10," ujarnya.

Pilar ketiga, lanjut Musa, adalah Sikambal Urban Farming yang bertujuan mengoptimalkan lahan sempit agar menjadi produktif. Program tersebut dikembangkan melalui budidaya melon, sayuran, ikan, hingga magot untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat.

"Sementara pilar keempat adalah Sikambal Edu yang memanfaatkan boneka Sikambal sebagai media edukasi bagi anak-anak mengenai lingkungan dan kegiatan bercocok tanam," jelasnya.

Musa menambahkan, penerapan Sikambal juga melibatkan masyarakat secara aktif. Sekitar 400 warga Kampung Bali terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pengumpulan hingga pengolahan sampah.

"Keterlibatan tersebut meliputi kader PKK, Dasawisma, kader Jumantik serta masyarakat di tingkat RT dan RW. Untuk sampah organik, sistem pengumpulan dilakukan dengan metode jemput bola setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Sementara pengumpulan bank sampah mengikuti jadwal yang telah ditetapkan masing-masing RW," paparnya.  

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Inovasi Bapeda Provinsi DKI Jakarta Maruhal Mangasi Tunas Sijabat mengatakan, verifikasi faktual dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara konsep inovasi yang disampaikan dengan penerapannya di lapangan.

“Tim Pusat Riset Inovasi Daerah melakukan verifikasi faktual ke Kelurahan Kampung Bali untuk melakukan cek terhadap ide atau konsep Sikambal yang diperlombakan,” ujar Maruhal.

Ia menjelaskan, peserta berasal dari perwakilan lima wilayah kota administrasi dan satu kabupaten di DKI Jakarta. Dari seluruh peserta tersebut kemudian dipilih tiga kelurahan dengan nilai tertinggi untuk menjalani verifikasi faktual.

Menurut Maruhal, terdapat sejumlah kriteria utama dalam penilaian, yakni unsur inovasi, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan program.

“Tidak hanya temporary atau siapa yang punya ide, tetapi bagaimana konsep dan solusinya menyelesaikan salah satu masalah di Jakarta. Kemudian bagaimana keterlibatan warganya dan bagaimana program tersebut dapat berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menilai Sikambal Kampung Bali telah menunjukkan kesesuaian antara paparan awal dengan kondisi di lapangan. Hal itu terlihat dari keterlibatan kader PKK, RT dan RW, pengembangan tanaman hidroponik, pengelolaan limbah organik menggunakan magot, serta program Sikambal Edu yang melibatkan kader RPTRA.

Maruhal berharap Sikambal tidak berhenti sebagai program perlombaan, tetapi terus dikembangkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap program ini dapat berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan pelayanan dan kenyamanan warga Kelurahan Kampung Bali. Jadi tidak hanya temporer untuk lomba, tetapi dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan warga,” tandasnya.

Dengan masuknya Sikambal sebagai tiga besar, Kelurahan Kampung Bali kini menunggu hasil akhir penilaian untuk menentukan peringkat pertama, kedua, dan ketiga inovasi kelurahan tingkat Provinsi DKI Jakarta.

Reporter: R Maulana Yusuf & Editor: Andreas Pamakayo
Feature Pak JP Pak JP Pak JP