Loading
Aksi pemadaman lampu selama 60 menit dalam rangka memperingati Hari Ozon Sedunia pada Sabtu (19/9) mencatat estimasi pengurangan emisi karbon sebesar 74,23 ton CO₂e, berdasarkan rekapitulasi PLN UID Jakarta Raya.
Capaian itu memperkuat optimisme bahwa langkah sederhana yang dilakukan bersama dapat berkontribusi terhadap pengurangan emisi dan pelestarian lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung pukul 20.30–21.30 WIB tersebut juga mencatat penghematan listrik sebesar 92,79 megawatt-jam (MWh). Rekapitulasi penghematan mencakup lima wilayah kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, hasil kegiatan ini menjadi penyemangat untuk membangun kebiasaan hemat energi secara berkelanjutan. Menurutnya, setiap warga dapat berkontribusi melalui penggunaan listrik yang lebih bijak di rumah, tempat kerja, maupun tempat usaha.
“Aksi satu jam ini mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari. Mematikan lampu yang tidak diperlukan dan menggunakan peralatan listrik sesuai kebutuhan merupakan langkah sederhana yang bisa kita lakukan bersama. Jika dijalankan secara konsisten, manfaatnya dapat terus bertambah,” ujar Dudi.
Baca Juga:
Penghematan listrik pada kegiatan kali ini meningkat sekitar 23,42 persen dibandingkan aksi serupa dalam rangka Hari Lingkungan Hidup pada 13 Juni 2026, yang mencatat penghematan sebesar 75,18 MWh. Capaian tersebut menjadi dorongan bagi Pemprov DKI Jakarta untuk terus mengajak masyarakat membudayakan hemat energi.
Dudi mengapresiasi dukungan masyarakat, pengelola gedung, pelaku usaha, dan seluruh pihak yang berpartisipasi. Ia berharap kepedulian tersebut terus tumbuh dan menginspirasi semakin banyak warga untuk mengambil bagian.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi. Kebersamaan ini menjadi kekuatan Jakarta dalam menjaga lingkungan. Setiap orang bisa memulai dari lingkungannya sendiri, kemudian mengajak keluarga, tetangga, dan rekan kerja melakukan kebiasaan baik yang sama,” katanya.
Untuk melanjutkan semangat tersebut, warga diajak memanfaatkan cahaya alami pada siang hari, mematikan lampu di ruangan yang tidak digunakan, serta mematikan pendingin ruangan dan perangkat elektronik setelah selesai digunakan. Pengelola gedung dan tempat usaha juga didorong mengatur penggunaan listrik sesuai kebutuhan dan waktu operasional, dengan tetap memperhatikan kenyamanan serta keselamatan.
Selain penghematan energi dan estimasi pengurangan emisi, rekapitulasi PLN mencatat penghematan biaya listrik sebesar Rp134.271.696 sebagai manfaat tambahan dari kegiatan ini.
“Selepas lampu kembali menyala, mari teruskan kebiasaan baiknya. Gunakan energi secukupnya dan hindari pemborosan. Dari langkah sederhana yang kita lakukan setiap hari, kita bersama-sama membangun Jakarta yang lebih ramah lingkungan,” tutup Dudi.