Sekko Jakpus; Kesehatan Jiwa Anak Penting Diperhatikan

Jakarta Pusat, -- Sekertaris Kota (Sekko) Jakarta Pusat (Jakpus) Iqbal Akbarudin menegaskan Kesehatan Jiwa dan perkembangan anak dan remaja di sekolah sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini diungkapkannya saat membuka Psikoedukasi Masalah Kesehatan Jiwa Pada Anak dan Remaja Usia Sekolah , Rabu pagi (26/4).

Menurutnya, sudah saatnya pengendalian dan deteksi dini masalah kesehatan jiwa anak dan remaja dilakukan di sekolah. Sebab, banyak kasus yang berkaitan dengan kesehatan jiwa pada anak dan remaja terjadi seperti susah belajar, kecanduan gadjet, tindakan bully, kecanduan Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza), dan penyimpangan seksual.

“Masalah kesehatan anak dan remaja ini masalah yang menarik, kita perlu kehati-hatian untuk mengarahkan mereka. Mereka ini aset penting bagi bangsa kita, maka dari itu mereka perlu diperhatikan kesehatan jiwanya, tumbuh kembangnya, agar dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Dalam hal ini, lanjut dia, sekolah dan para guru mendapat peran penting untuk memperhatikan kesehatan jiwa bagi anak dan remaja. Sebab, waktu belajar anak disekolah lebih banyak dibandingkan bertemu dengan kedua orang tuanya apalagi bagi para orang tua yang bekerja.

“Bagi kita yang bekerja, waktu untuk bertemu anak sulit. Kita berangkat kerja anak belum bangun, saat pulang anak sudah tidur. Maka dari itu kita mempercayakan pendidikan anak kita pada sekolah. Untuk itu psikoedukasi mengenai masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja di sekolah ini begitu penting. Saya harap, guru-guru yang hadir pada acara ini dapat memahami betul materi yang disampaikan, sehingga dapat menerapkannya di sekolah pada siswa-siswinya,” tegasnya.

Sementara itu, Kasudin Kesehatan Jakpus Yudhita Endah menerangkan psikoedukasi yang dilaksanakan pihaknya ini akan berlangsung selama dua hari, yakni 26-27 April esok. Hari ini ada 200 orang guru Sekolah Dasar (SD) yang diundang untuk mengkuti psikoedukasi, sementara esok guru Sekolah Menegah Pertama (SMP) yang akan mengikuti psikoedukasi. Menurutnya, psikoedukasi ini dilakukan guna memberikan pemahaman bagi para guru mengenai kondisi kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Ini juga merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif  terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja.

“Jadi memang para guru di sekolah ini harus peduli terhadap anak didiknya, tidak hanya soal pendidikan saja, tapi juga kesehatan jiwa muridnya. Sehingga, guru dapat menjadi tempat curahan perasaan anak murid, sekaligus dapat mencegah terjadinya tindakan bully di sekolah,” terangnya.

 

Kominfotik JP

 

 

 

 


Tulis Komentar Anda



Berita Terkait